Sejarah Tragedi Bintaro Yang Bikin Pilu

  • Bagikan
Sejarah Tragedi Bintaro
Sejarah Tragedi Bintaro

HARIAN.ID – Sejarah Tragedi Bintaro Yang Bikin Pilu Sebuah kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia sepanjang masa ya itu terjadi 34 tahun silam di Bintaro. Tepatnya Kejadian ini dikenal dengan Tragedi Bintaro yaitu sebuah kecelakaan Dahsyat pada tanggal 19 Oktober dan menjadi salah satu kecelakaan kereta api paling Fatal di Indonesia.

Tragedi Bintaro menjadi salah satu tragedi yang sangat membuat masyarakat di Indonesia merasakan pilu dikarenakan kejadian pada tanggal 19 Oktober 1987 yang lalu atau tepatnya 34 tahun silam, sebuah kecelakaan kereta api terdahsyat terjadi di Bintaro yang menewaskan ratusan orang dan dan luka. Malahan Kejadian ini diabadikan melalui sebuah film yang latar belakangnya di daerah Pondok Betung bintaro Jakarta Selatan.

Sejarah Tragedi Bintaro

Dari sejarah tercatat apabila Tragedi Bintaro melibatkan kecelakaan 2 kereta api yaitu kereta api 225 merak dan kereta api 220 rangkas di mana untuk kereta api 225 tercatat dalam keadaan penuh ada yang bergelantungan di area pintu kereta, jendela sampai lokomotif.

Kedua kereta api ini bertabrakan dengan posisi adu banteng dan disaat bertabrakan, gerbong pertama di belakang lokomotif terdorong ke arah muka dan langsung menubruk lokomotif yang ada di depannya dan tercatat kejadian tersebut menewaskan sebanyak 156 orang dan ratusan orang lainnya mengalami luka parah dan berat.

Kecelakaan kereta api tragedi Bintaro tercatat menjadi kecelakaan paling fatal sepanjang sejarah dan menjadi kecelakaan terburuk dalam sejarah Perkeretaapian di Indonesia sehingga tidak salah setiap tanggal 19 Oktober dikenal sebagai hari Tragedi Bintaro.

Ada kelalaian petugas

Dari beberapa keterangan perusahaan jawatan kereta api berdasarkan gapeka yang berlaku saat itu, itu untuk kereta api 225 dijadwalkan tiba di Stasiun Sudimara yaitu pada jam 06.40 untuk bersilang dengan kereta api 220 pada jam 06.49.

Selanjutnya sesuai dari jadwal tersebut ternyata kereta api 220 tidak kunjung datang dan selanjutnya kereta api 225 memutuskan untuk berjalan dari Sudimara menuju arah Tanah Abang dan di saat itu petugas pengatur perjalanan kereta api bernama Djamhari menerima informasi apabila kereta api 220 telah berangkat untuk menuju ke daerah Sudimara.

Dengan kebingungan tersebut, Djamhari mengakali masalah tersebut dengan melangsir kereta api 225 dari jalur 3 ke jalur 1 stasiun Sudimara dan selanjutnya ia memerintahkan seorang petugas stasiun untuk melangsir padahal perihal langsiran tersebut harus ditulis oleh PPKA melalui Laporan harian masinis dan menjelaskan secara lisan.

Petugas yang waktu itu disuruh oleh Djamhari langsung tangkap mengambil bendera merah dan slompret dan ketika akan dilangsir ternyata masinis tidak bisa melihat semboyan yang diberikan dikarenakan pandangannya terhalang oleh penumpang sehingga tidak lama KA 225 ia saat itu membawa 7 gerbong akhirnya tabrakan dengan kereta api 220 di desa Pondok Betung sekitar jam 06.45 WIB,

Bantahan masinis kereta api 225

Masinis kereta api 225 bernama Slamet Suradio yang saat itu selamat langsung membantah tuduhan dari PJKA yang mengatakan apabila dirinya memutuskan untuk memberangkatkan kereta tanpa perintah dikarenakan suradio apabila dirinya hanya mengikuti instruksi dari PPKA sudimara.

Malahan menurutnya berkali-kali jika Tudingan tersebut merupakan sebuah kebohongan besar yang dilayangkan kepada dirinya.

Pemimpin perjalanan kereta api Sudimara dianggap bersalah dikarenakan memberikan persetujuan persilangan kereta dari Sudimara ke Kebayoran tanpa adanya persetujuan sebelumnya dari pihak ppka Kebayoran dan selanjutnya ppka Stasiun Kebayoran disalahkan karena tidak melakukan koordinasi dengan Sudimara.

Selanjutnya yang disalahkan masinis kereta api 225 dikarenakan begitu dirinya menerima bentuk tempat persilangan, malah langsung berangkat tanpa dirinya menunggu perintah dari ppka dan kondektur.

  • Bagikan