Sejarah Hari Ibu Tanggal 22 Desember Yang Wajib Diketahui

  • Bagikan
Sejarah Hari Ibu Tanggal 22 Desember
Sejarah Hari Ibu Tanggal 22 Desember

HARIAN.ID – Sejarah Hari Ibu Tanggal 22 Desember Yang Wajib Diketahui Bagi Anda yang bertanya terkait Hari Ibu tanggal berapa? Maka harus anda ketahui apabila hari Ibu jatuh pada tanggal 22 Desember setiap tahun dan pada tanggal tersebut menjadi salah satu perayaan tahunan yang berlangsung di Indonesia. Peringatan Hari Ibu mempunyai sejarah panjang dan untuk kisahnya akan kami bahas pada postingan kali ini, supaya Anda lebih memahami terkait masalah tersebut.

Hari Ibu nasional dipastikan sangat berbeda dengan hari Ibu internasional walaupun peringatannya sama yaitu untuk mengenang semua jasa seluruh ibu yang ada di dunia dan Indonesia, akan tetapi peringatan dari keduanya berlangsung pada tanggal yang berbeda.

Sejarah hari ibu ditetapkan pada tanggal 22 Desember sebagai perayaan tahunan bukan hanya ditunjukkan untuk menghargai semua jasa perempuan sebagai seorang ibu akan tetapi jasa perempuan secara menyeluruh yang memberikan seluruh kasih sayangnya kepada anak.

Sejarah hari ibu

Untuk sejarah penetapan peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember dipastikan mempunyai sejarah yang sangat panjang di mana di dalam salah satu buku berjudul merayakan Ibu bangsa yang ditulis oleh ehI Gusti Agung Ayu Ratih dkk, di mana saat itu ada hal yang dilawan pergerakan perempuan di tanah air semenjak akhir abad ke-19 sampai sekarang ini yaitu tatanan patriarki dalam masyarakat tradisional.

Tatanan tersebut menempatkan sosok lelaki sebagai pusat kehidupan sosial selanjutnya kaum perempuan yang saat itu ditindas atas nama hukum adat dan hukum agama di banyak budaya masyarakat tradisional di nusantara.

Selanjutnya memasuki masa kolonial perempuan tidak hanya dijajah oleh feodalisme akan tetapi kolonialisme yang saat itu membuat sengsara seluruh bangsa Indonesia termasuk perempuan dan melihat akan permasalahan ini, kaum perempuan tidak tinggal diam dan muncullah sosok RA Kartini yang menjadi salah satu tanggapan paling awal pada kondisi perempuan di Indonesia saat itu dan selanjutnya muncul Dewi Sartika yang sukses menyelenggarakan pendidikan untuk perempuan dan melalui pembangunan pada 9 sekolah.

Memasuki abad pergerakan perempuan dengan munculnya organisasi, aktivis sampai koran perempuan. Seluruh pergerakan tersebut selanjutnya menggaungkan pemberontakan melawan kolonialisme dan hal ini digagas oleh perempuan.

Untuk kongres pertama peringatan Hari Ibu yang ditetapkan tanggal 22 Desember terjadi pada tahun 1928 dimana Pada kongres tersebut dihadiri sebanyak 30 perwakilan organisasi perempuan yang dilakukan dua bulan setelah Kongres Pemuda Kedua berlokasi di Pendopo Djajadipoeran, Yogyakarta hasil inisiatif 3 orang perempuan diantaranya adalah Nyonya Soekonto dari Wanita Oetomo selanjutnya Nyi Hadjar Dewantara dari Taman Siswa dan terakhir Nona Soejatin dari Poetri Indonesia.

Untuk kongres pertama dipastikan tidak berbicara terkait politik akan tetapi mereka fokus untuk permasalahan pendidikan dan perkawinan dan selanjutnya acara ini menghasilkan tiga tuntutan kepada pemerintah kolonial dan salah satu organisasi payung bernama perikatan perempuan Indonesia dan selanjutnya ada seruan 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu nasional.

Tiga tuntutan yang dihasilkan dalam Kongres tersebut bagi pemerintah kolonial yaitu berisi:

  1. Jumlah sekolah Bagi perempuan harus lebih ditingkatkan
  2. Harus memberikan penjelasan resmi terkait arti taklik atau janji perkawinan yang diberikan kepada calon mempelai perempuan saat akad nikah
  3. Memerlukan peraturan yang menolong bagi para janda dan anak yatim piatu dan Pegawai Sipil.

Selanjutnya Pada kongres ke-2 dan ke-3 yang terjadi pada tanggal 20 sampai 24 Juli 1935 menghasilkan beberapa poin dimana kongres yang berlangsung di Jakarta ini membentuk badan kongres perempuan Indonesia dan poin ke-2 penetapan fungsi utama perempuan Indonesia sebagai ibu bangsa yang wajib menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih sadar dan juga tebal pada rasa kebangsaan.

Keppres Nomor 316 tahun 1959 dari pemerintah mulai keluar di mana pemerintah waktu itu mengukuhkan hari ibu bu jatuh pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai hari nasional dan bukan hari libur.

Selanjutnya pada tanggal 22 Desember terdapat lambang hari ibu dengan setangkai bunga melati dan kuntumnya dimana lambang ini mencerminkan Semangat perjuangan kaum perempuan di tanah air dengan 3 filosofi diantaranya kasih-sayang kodrati antara ibu dan anak, kekuatan kesucian Antar ibu dan pengorbanan anak dan kesadaran perempuan untuk menggalang kesatuan dan persatuan selanjutnya keikhlasan Bakti dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

  • Bagikan