Tarif Cukai Rokok Naik 12 Persen di Tahun 2022

  • Bagikan
Tarif Cukai Rokok Naik
Tarif Cukai Rokok Naik

HARIAN.ID – Tarif Cukai Rokok Naik 12 Persen di Tahun 2022 Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan Belum lama ini mengatakan apabila ada sejumlah alasan yang membuat tarif Cukai rokok akan naik sekitar 12% di Tahun 2022 dan selanjutnya alasan tersebut memang sangat konkrit terkait kenaikan mulai dari Salah satunya yaitu permintaan Presiden Jokowi selanjutnya alasan dikarenakan dampak rokok terhadap kesehatan dan masalah keberlangsungan tenaga kerja dan industri di tanah air.

Tarif Cukai rokok naik 12 Persen di Tahun 2022 dikarenakan beberapa faktor dan Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di depan awak media dimana alasan yang paling kuat yaitu atas permintaan Presiden Joko Widodo selanjutnya masalah dampak rokok pada kesehatan sampai keberlangsungan para pekerja dan industri. Untuk kenaikan sendiri menurut Sri Mulyani hal ini diberikan dari Presiden dengan arahan antara 10 sampai 12% dan selanjutnya pihak Sri Mulyani menetapkan untuk kenaikan Bea Cukai yaitu 12%.

Selanjutnya untuk rokok jenis sigaret kretek presiden Jokowi meminta supaya kenaikan tarif tidak lebih dari 5% sehingga dengan adanya intruksi tersebut sri Mulyani kemungkinan besar akan memberikan tarif untuk rokok sigaret Kretek dalam Bea Cukai yaitu 4,5 persen.

Tarif Cukai Rokok Naik 12 Persen di Tahun 2022

Selanjutnya pemerintah dikabarkan mempertimbangkan Sisi kesehatan di mana keluarga Indonesia dengan anggota keluarga perokok mempunyai potensi anak stunting atau kekurangan gizi sampai 5,5 persen lebih tinggi dari yang tidak merokok sehingga perokok lebih berisiko 14 kali terinfeksi covid 19 jika dibandingkan dengan bukan perokok.

Walaupun begitu, masyarakat Indonesia ternyata tidak pernah mengurangi konsumsi rokok malahan di tengah pandemi banyak kenaikan dari jumlah perokok. Padahal tingginya potensi terkena virus covid 19 pada perokok akan membuat pemerintah merogoh kocek lebih dalam untuk masalah biaya penanganan perokok yang menjadi pasien virus Corona.

Selanjutnya alasan lain Kenapa Bea Cukai rokok akan naik di tahun yang akan datang yaitu dikarenakan tingginya kebutuhan biaya kesehatan akibat merokok di mana Ani mencatat biaya kesehatan mencapai Rp17,9 triliun sampai Rp27,7 triliun.

Selanjutnya dari total biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah sebanyak Rp15,6 triliun merupakan biaya perawatan yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan atau setara 20% dari subsidi pbi-jkn yaitu sebesar Rp48,8 triliun per tahun.

Selanjutnya pemerintah mempertimbangkan Sisi pendapatan perkapita di mana menurut Menteri Keuangan apabila pendapatan perkapita suatu negara akan lebih rendah jika tenaga kerjanya mengalami kekurangan gizi dan selanjutnya pemerintah mengharapkan kenaikan Cukai Rokok dapat menurunkan tingkat prevalensi perokok dewasa dan juga anak.

Untuk sekarang ini prevalensi perokok dewasa mencapai 71,3 persen atau menempati peringkat pertama di dunia gimana Menurut Sri Mulyani Hal tersebut dikarenakan harga rokok di Indonesia tergolong murah sangat jauh di bawah rata-rata dan yang paling mahal di Australia yaitu harga rokok mencapai US$21.

Untuk harga rokok rata-rata kisaran di dunia yaitu US$4 tu sedangkan di Indonesia harganya hanya US$2,1 per bungkus dan selanjutnya dikabarkan apabila kenaikan harga rokok menurut kementerian keuangan sangat lambat yaitu hanya 10,3 persen per tahun.

Selanjutnya untuk penyesuaian tarif Cukai rokok dipastikan akan tetap memperhatikan dampak kenaikan nya pada keberlangsungan industri tembakau terutama industri rokok jenis sigaret Kretek tangan yang mempunyai banyak tenaga kerja atau padat karya dan selanjutnya pemerintah ingin memakai penerimaan dari kenaikan tarif Cukai rokok yang nantinya dijadikan dana bagi hasil untuk daerah.

Selanjutnya dengan adanya tarif Cukai rokok di Tahun 2022 dengan kenaikan 12% nantinya dana bagi hasil dipakai untuk penanganan masalah kesehatan, selanjutnya kesejahteraan masyarakat sampai masalah penegakan hukum

  • Bagikan