Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan kinerja positif yang berkesinambungan hingga pertengahan triwulan akhir tahun ini. Pertumbuhan tersebut didorong oleh penguatan volume ekspor produk olahan industri dalam negeri serta stabilnya permintaan pasar dari kawasan mitra dagang regional.

Melansir laporan resmi dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik menunjukkan kontributor utama surplus berasal dari sektor industri pengolahan non-migas, khususnya produk turunan logam dasar, komponen elektronik, serta produk turunan minyak kelapa sawit olahan bernilai tambah tinggi. Hilirisasi sumber daya alam secara nyata mampu menahan dampak volatilitas harga komoditas primer global.

Menteri Perdagangan menyatakan bahwa diversifikasi negara tujuan ekspor ke pasar non-tradisional, seperti kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Timur, mulai memperlihatkan hasil terukur. Kebijakan fasilitasi perdagangan bilateral dan pemanfaatan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif menjadi instrumen efektif dalam membuka akses pasar bagi pelaku industri nasional.

Di sisi lain, impor bahan baku penolong dan barang modal mengalami peningkatan proporsional yang mencerminkan bergeraknya kapasitas utilisasi pabrik-pabrik dalam negeri. Pelaku industri manufaktur terus memperluas kapasitas produksi guna memenuhi pesanan ekspor sekaligus mengantisipasi lonjakan permintaan konsumsi domestik jelang akhir tahun.