Terobosan inovasi sains atmosfer berhasil diaplikasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta TNI Angkatan Udara. Dalam operasi penanganan kabut asap yang dilaporkan pada Selasa malam, tim gabungan ilmuwan menerapkan teknik penaburan es kering (*solid carbon dioxide* / *dry ice*) dari pesawat udara khusus guna meredam konsentrasi partikulat debu asap kebakaran hutan dan lahan di atas wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
Penggunaan es kering sebagai bahan semai atmosfer merupakan respons cerdas terhadap fenomena inversi termal (*temperature inversion*), di mana lapisan udara dingin terperangkap di bawah lapisan udara hangat. Kondisi meteorologis ini membuat partikulat asap beracun PM2.5 tidak dapat membumbung ke atmosfer atas dan justru menumpuk di dekat permukaan tanah, menyebabkan kabut asap pekat bertahan lama di kawasan pemukiman warga.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG menjelaskan mekanisme ilmiah dari teknik ini. Penaburan butiran es kering bersuhu minus 78,5 derajat Celsius pada ketinggian awan tertentu secara instan menciptakan penurunan suhu drastis di lapisan udara sasaran. Perbedaan gradien suhu mikro tersebut memicu proses kondensasi cepat uap air dan memecah lapisan inversi, sehingga partikel polutan terdorong naik dan tersebar (*dissipated*) oleh angin ketinggian tinggi atau luruh bersama butiran presipitasi hujan.
Operasi semai es kering ini diuji coba secara masif di atas wilayah udara Palembang, Ogan Komering Ilir, Pontianak, dan Banjarbaru menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules milik TNI AU yang dimodifikasi dengan corong pelepasan bertekanan khusus. Setiap sortie penerbangan mampu menaburkan hingga satu ton es kering berukuran seragam yang dihitung secara presisi oleh model simulasi superkomputer cuaca BMKG.
Hasil pengukuran sensor kualitas udara stasiun GAW (Global Atmosphere Watch) dan satelit pemantau aerosol mengonfirmasi efektivitas teknik ini. Dalam kurun waktu tiga hingga empat jam pasca-penaburan, visibilitas horizontal di landasan pacu bandara meningkat dari semula hanya 800 meter menjadi lebih dari 4.000 meter, sekaligus melancarkan kembali jadwal penerbangan komersial yang sempat terganggu.
Para pakar sains lingkungan mengapresiasi keberanian BMKG dalam mengadopsi pendekatan ilmiah mutakhir ini. Penggunaan es kering dinilai jauh lebih efektif pada kondisi awan yang minim potensi hujan alami (*non-convective cloud*) dibandingkan garam dapur konvensional (NaCl) yang membutuhkan kelembapan udara sangat tinggi untuk membentuk tetes air hujan.
Keberhasilan rekayasa sains atmosfer ini membuktikan bahwa penguasaan teknologi meteorologi terapan merupakan instrumen vital dalam mitigasi bencana lingkungan modern. BMKG memastikan inovasi modifikasi cuaca berbasis es kering ini akan menjadi prosedur operasional standar penanganan darurat polusi udara ekstrem di masa depan demi melindungi kesehatan jutaan rakyat Indonesia.
Secara ilmiah, partikel es kering yang menguap secara instan menyerap panas laten di sekitarnya, menghasilkan pembekuan mikro yang menarik partikulat karbon dan sulfur dioksida di udara menjadi gumpalan kristal berat yang kemudian jatuh ke permukaan tanah melalui proses deposisi gravitasi. Metode ini terbukti mampu memotong rantai polutan berbahaya di udara ambien tanpa meninggalkan residu kimia beracun bagi ekosistem tanah dan perairan.
BMKG merencanakan pembentukan posko siaga teknologi modifikasi cuaca permanen di bandara-bandara strategis pulau Sumatera dan Kalimantan. Dengan kesiapan armada udara militer dan ketersediaan pasokan bahan semai es kering yang berlimpah, mitigasi polusi asap karhutla di masa mendatang dapat direspons secara cepat dan terukur demi melindungi jutaan warga dari ancaman infeksi saluran pernapasan. Penerapan sains terapan ini membuktikan keandalan riset atmosfer nasional dalam menjaga mutu udara sehat bagi seluruh lapisan masyarakat.