JAKARTA — Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi pembukaan Selasa pagi bergerak di zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 21,17 poin atau terkoreksi 0,36 persen ke level 5.914, terseret oleh pelemahan saham-sitem sektor perbankan berkapitalisasi besar (*big caps*), sektor energi, dan barang konsumen non-primer. Sejalan dengan bursa saham, nilai tukar Rupiah di pasar spot antarbank terdepresiasi tipis ke posisi Rp17.939 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis pasar modal menjelaskan bahwa tekanan koreksi jangka pendek ini dipicu oleh faktor eksternal (*spillover effects*), terutama lonjakan ketegangan geopolitik di perairan Selat Hormuz yang mengerek harga minyak mentah dunia serta mendorong lonjakan imbal hasil obligasi negara AS (*US Treasury yield*) tenor 10 tahun melampaui 4,1 persen. Kondisi tersebut memicu aksi pengalihan aset investor global (*flight to safety*) dari pasar negara berkembang menuju aset-aset berdenominasi dolar AS dan emas batangan.

Di pasar domestik, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatatkan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pokok seperti cabai rawit yang menyentuh Rp105.300 per kilogram dan telur ayam ras di angka Rp29.700 per kilogram. Kenaikan harga pangan akibat kemarau panjang ini memicu spekulasi pasar terhadap kenaikan inflasi bulanan (*month-on-month*) yang berpotensi membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Meskipun demikian, otoritas moneter Bank Indonesia memastikan tetap siaga penuh berada di pasar valas dan surat berharga negara melalui strategi intervensi terukur (*triple intervention*) di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar sekunder obligasi negara. Cadangan devisa nasional yang melimpah di atas 150 miliar dolar AS dinilai sebagai benteng pelindung yang sangat memadai dalam meredam volatilitas nilai tukar yang berlebihan (*overshooting*).

Para analis saham fundamental menilai bahwa koreksi indeks saham saat ini membuka peluang akumulasi beli selektif (*buy on weakness*) bagi investor jangka panjang. Emiten-emiten berbasis komoditas mineral logam, perbankan berkinerja laba bersih solid, serta sektor infrastruktur telekomunikasi dinilai memiliki valuasi harga yang sangat atraktif dengan rasio dividen (*dividend yield*) yang menggiurkan.

Fundamental ekonomi Indonesia yang ditopang pertumbuhan domestik di atas 5 persen dan stabilitas sistem perbankan yang sehat menjadi jangkar penopang kepercayaan pelaku pasar. Volatilitas harian di pasar modal adalah dinamika wajar yang akan segera mereda seiring meredanya sentimen ketidakpastian global.

Dari sisi kebijakan fiskal, Kementerian Keuangan memastikan bahwa penyerapan belanja negara pada kuartal keempat akan terus diakselerasi guna menopang perputaran daya beli masyarakat di tingkat akar rumput. Penyaluran bantuan sosial terarah dan percepatan realisasi proyek-proyek padat karya tunai di pedesaan diharapkan mampu menjadi penyeimbang di tengah gejolak sentimen pasar keuangan eksternal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa profil ketahanan perbankan nasional tetap berada pada level yang sangat solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan melampaui 26 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang terjaga rendah di kisaran 2,2 persen. Likuiditas perbankan yang melimpah memberikan ruang pembiayaan yang memadai bagi ekspansi kredit dunia usaha.

Dengan fundamental ekonomi domestik yang kokoh, inflasi yang terkendali, dan koordinasi solid dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), perekonomian Indonesia optimis mampu melewati masa-masa turbulensi global dengan tetap mencatatkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Stabilitas pasar modal dan ketahanan sistem perbankan nasional menjadi bukti nyata bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid menghadapi tantangan ketidakpastian global menuju pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.