Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah lahan gambut Kalimantan Selatan dan Sumatera memasuki babak baru berkat integrasi inovasi sains rekayasa atmosfer dan pemanfaatan teknologi kedirgantaraan militer. TNI Angkatan Udara (TNI AU) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan BNPB mengerahkan armada pesawat angkut berat C-130 Hercules untuk melaksanakan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) berbasis penyemaian garam higroskopis di atas tutupan awan kumulus potensial.

Karakteristik kebakaran lahan gambut tropis memiliki kompleksitas tinggi karena bara api kerap membakar lapisan tanah organik di kedalaman satu hingga dua meter di bawah permukaan (*subsurface smoldering fire*). Pemadaman konvensional dari jalur darat seringkali tidak mampu menjangkau sumber api terpendam tersebut dan menghasilkan kabut asap pekat yang membahayakan sistem pernapasan warga. Oleh karena itu, hujan buatan hasil rekayasa mikrofisika awan menjadi solusi ilmiah paling efektif untuk membasahi kembali (*rewetting*) kubah gambut yang mengering.

Dalam operasi gabungan sains kebencanaan ini, tim peneliti mengintegrasikan data satelit cuaca Himawari dan sensor inframerah termal pada armada pesawat nirawak (*surveillance drone*) untuk memetakan koordinat titik panas (*hotspots*) secara real-time. Informasi koordinat presisi tersebut ditransmisikan langsung ke kokpit pesawat C-130 Hercules guna menentukan titik lepas (*drop zone*) bahan semai natrium klorida (NaCl) murni pada ketinggian awan yang paling optimal memicu kondensasi tetes air hujan.

Selain operasi modifikasi cuaca dari udara, para peneliti sains lingkungan mengembangkan formulasi cairan busa pemadam berbasis surfaktan ramah lingkungan (*eco-friendly fire retardant*). Formulasi busa organik ini mampu menembus pori-pori gambut dan mengikat kelembapan tanah lebih lama dibandingkan air biasa, sehingga mencegah terjadinya penyalaan kembali api (*re-ignition*) saat terpapar suhu udara panas di siang hari.

Operasi sains terpadu yang dilancarkan selama sepekan terakhir telah berhasil memicu curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di kawasan rawan kebakaran Banjarbaru, Tanah Laut, dan Barito Kuala. Penurunan jumlah titik panas secara drastis tercatat pada sensor satelit pemantau, sehingga kualitas udara indeks standar pencemar udara (ISPU) di wilayah Kalimantan Selatan berangsur pulih ke kategori aman dan sehat.

Para pakar sains kebumian menekankan bahwa teknologi modifikasi cuaca harus diimbangi dengan restorasi hidrologis gambut secara permanen melalui pembangunan sekat kanal (*canal blocking*) dan pembinaan masyarakat peduli api. Sains pencegahan kebakaran berbasis kearifan lokal tetap menjadi pilar utama dalam menjaga kelestarian bioma hutan tropis nusantara.

Sinergi gemilang antara sains terapan, teknologi kedirgantaraan TNI AU, dan kebersamaan masyarakat membuktikan bahwa tantangan bencana ekologis di era krisis iklim global dapat diatasi secara tangguh melalui kecerdasan inovasi anak bangsa demi melindungi paru-paru bumi Indonesia.

Tim peneliti oseanografi dan meteorologi terapan BRIN turut mengerahkan pemodelan simulasi dinamika fluida atmosfer berbasis superkomputer guna memprediksi pergerakan arah angin dan potensi pertumbuhan sel awan konvektif hingga 48 jam ke depan. Ketepatan pemodelan cuaca numerik (*numerical weather prediction*) ini memungkinkan misi penerbangan C-130 Hercules menjatuhkan semaian garam tepat pada fase awan matang dengan tingkat efektivitas hujan mencapai lebih dari 85 persen.

Keberhasilan teknologi modifikasi cuaca di Kalimantan Selatan ini menarik minat para ilmuwan iklim dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara sebagai rujukan sains mitigasi kebakaran lahan gambut tropis. Sains rekayasa atmosfer Indonesia membuktikan bahwa riset teknologi terapan anak bangsa mampu memberikan solusi konkret dan berdaulat dalam menghadapi ancaman anomali iklim global.