MADIUN — Upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) nasional mendapatkan momentum baru melalui inovasi integrasi layanan kesehatan di tingkat daerah. Pemerintah Kota Madiun, Jawa Timur, bersama jajaran dinas kesehatan meresmikan penggabungan program penemuan kasus aktif TBC dengan agenda rutin Cek Kesehatan Gratis (CKG) keliling yang menyasar langsung permukiman warga, pasar tradisional, dan panti sosial, Senin sore.

Inisiatif jemput bola ini dirancang untuk mengatasi fenomena gunung es penularan TBC, di mana banyak penderita di masyarakat tidak menyadari dirinya telah terinfeksi bakteri *Mycobacterium tuberculosis* atau enggan memeriksakan diri ke puskesmas karena khawatir akan stigma sosial. Dengan memadukan pemeriksaan dahak bersama pemeriksaan kesehatan umum gratis seperti pengukuran tekanan darah, tes gula darah, kolesterol, dan rekam jantung, warga merasa lebih nyaman dan antusias berpartisipasi tanpa rasa malu.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, petugas kesehatan mengerahkan unit mobil rontgen digital portabel (*mobile X-ray*) yang dilengkapi teknologi kecerdasan buatan untuk membaca citra paru-paru secara otomatis dalam hitungan detik. Jika hasil rontgen menunjukkan lesi mencurigakan, sampel dahak warga langsung diperiksa menggunakan mesin Tes Cepat Molekuler (TCM) berstandar WHO yang memiliki akurasi di atas 95 persen untuk mengidentifikasi keberadaan kuman dan mendeteksi resistensi terhadap obat rifampisin.

Bagi warga yang terkonfirmasi positif TBC, dinas kesehatan langsung memberikan paket pengobatan obat anti-tuberkulosis (OAT) kombinasi dosis tetap selama enam bulan secara cuma-cuma yang dijamin oleh pembiayaan BPJS Kesehatan. Setiap pasien didampingi oleh seorang kader Pendamping Menelan Obat (PMO) terlatih yang berasal dari tetangga sekitar guna memastikan kepatuhan minum obat secara teratur hingga pasien dinyatakan sembuh total tanpa putus obat (*drop out*).

Pemberian asupan nutrisi tambahan berupa telur, susu tinggi protein, dan suplemen vitamin turut disalurkan kepada keluarga pasien guna memperbaiki daya tahan tubuh dan mempercepat pemulihan berat badan. Keluarga inti dan kontak serumah pasien juga menjalani terapi pencegahan TBC (TPT) untuk memutus siklus penularan bakteri di lingkungan rumah tangga.

Kementerian Kesehatan mengapresiasi model integrasi layanan primer ini sebagai praktik teladan (*best practice*) yang layak direplikasi oleh pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Dengan deteksi sedini mungkin, pengobatan tuntas tanpa diskriminasi, serta kepedulian antartetangga, Indonesia optimis mampu mewujudkan target bebas tuberkulosis pada tahun 2030.

Untuk memastikan keberlanjutan program penanggulangan TBC, pemerintah daerah juga menggandeng organisasi kemasyarakatan, kader PKK, dan tokoh agama untuk mengikis stigma negatif terhadap pasien TBC di lingkungan permukiman. Kampanye TOSS TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) disosialisasikan secara masif agar masyarakat sadar bahwa penyakit TBC dapat disembuhkan total jika diobati secara patuh dan tepat waktu.

Keberhasilan model integrasi layanan kesehatan primer ini membuktikan bahwa penanganan penyakit menular membutuhkan kerja sama erat antara otoritas medis dan modal sosial warga. Dengan deteksi dini yang agresif dan pengobatan yang tuntas, cita-cita mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat, produktif, dan terbebas dari ancaman TBC semakin dekat untuk dicapai.

Komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan layanan kesehatan yang dekat, cepat, dan bermartabat membuktikan bahwa kesehatan masyarakat adalah prioritas tertinggi pembangunan. Memutus mata rantai tuberkulosis menjadi warisan paling berharga bagi terwujudnya generasi bangsa yang sehat, kuat, dan sejahtera.

Keluarga dan lingkungan terdekat memegang peranan krusial dalam memberikan dukungan moral bagi kesembuhan pasien tuberkulosis. Kehangatan kepedulian sosial dan tiadanya diskriminasi menjadi obat penenang jiwa yang mempercepat proses pemulihan fisik pasien untuk kembali berdaya dan berkarya di tengah masyarakat.