Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya secara resmi memperpanjang kemitraan riset dan pengembangan teknologi strategis bersama industri pertahanan swasta nasional terkemuka, PT BTI Defence. Kolaborasi lanjutan ini difokuskan pada percepatan penguasaan teknologi pertahanan maritim modern, inovasi sistem navigasi radar canggih, serta perancangan kapal permukaan dan bawah laut nirawak (*unmanned surface and underwater vessels*) guna memperkuat kedaulatan laut nusantara.
Penandatanganan nota kesepahaman kelanjutan kerja sama ini digelar di Kampus Sukolilo ITS Surabaya dengan dihadiri oleh jajaran rektorat, dekan fakultas teknologi kelautan, para peneliti terkemuka, serta dewan direksi BTI Defence. Kemitraan terpadu model *triple helix* antara perguruan tinggi riset dan industri manufaktur pertahanan ini telah membuktikan capaian nyata dalam melahirkan purwarupa komponen alutsista berstandar militer internasional selama beberapa tahun terakhir.
Rektor ITS menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki tantangan pengawasan wilayah laut yang amat luas dan kompleks. Oleh sebab itu, adopsi riset rekayasa teknik perkapalan yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (*artificial intelligence*) dan sistem sensor mandiri merupakan keniscayaan demi mengurangi ketergantungan belanja alutsista pada produsen luar negeri.
Dalam perjanjian kerja sama terbaru ini, fokus penelitian diarahkan pada pengembangan sistem kendali otonom jarak jauh untuk wahana patroli maritim nirawak, material komposit lambung kapal berkemampuan siluman (*radar absorbent material*), serta sistem pemantauan akustik sonar bawah air. Seluruh inovasi ini ditargetkan memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi sehingga memicu tumbuhnya ekosistem industri pertahanan domestik.
Spesifikasi wahana nirawak yang tengah dikembangkan dirancang mampu melaju hingga kecepatan 45 knot di perairan berombak tinggi dengan daya jelajah mencapai 500 mil laut. Uji coba hidrodinamika dan sistem tautan data terenkripsi anti-intersepsi telah berhasil diuji di perairan Selat Madura dengan melibatkan tim insinyur muda lulusan teknik perkapalan dan elektro ITS, membuktikan keandalan rekayasa teknologi buatan anak bangsa.
Direktur Utama BTI Defence mengapresiasi keunggulan kapabilitas riset dan kualitas talenta insinyur muda yang dicetak oleh ITS. Pihak industri berkomitmen penuh mengalokasikan pendanaan riset, fasilitas laboratorium uji coba hidrodinamika laut lepas, serta penyediaan jalur produksi skala industri agar hasil riset civitas akademika tidak berhenti di tahap purwarupa, melainkan diproduksi massal untuk kebutuhan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).
Program kolaborasi ini juga membuka ruang magang industri bersertifikasi, beasiswa riset tingkat magister dan doktoral bagi mahasiswa berprestasi, serta pertukaran tenaga ahli antara dunia akademis dan militer. Upaya ini diharapkan dapat melahirkan generasi baru perancang teknologi pertahanan yang berdaya saing global dan memperkuat posisi tawar industri pertahanan dalam negeri di pasar regional.
Sinergi berkelanjutan antara ITS dan BTI Defence menjadi bukti nyata bahwa sains dan teknologi buatan anak bangsa sanggup menjawab tantangan pertahanan kedaulatan maritim abad ke-21. Dengan inovasi teknologi yang mandiri, keamanan perairan teritorial Indonesia akan semakin kokoh dan terlindungi dari segala bentuk ancaman militer maupun penyelundupan ilegal lintas batas negara.
Keberhasilan sinergi industri dan perguruan tinggi ini turut membuka peluang ekspor alutsista maritim buatan dalam negeri ke sejumlah negara sahabat di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. Dengan sertifikasi kelaikan militer internasional dan keunggulan biaya produksi yang efisien, produk inovasi kapal nirawak karya anak bangsa ini optimis mampu menembus rantai pasok aliansi pertahanan global di masa mendatang.
Langkah konkret ini membuktikan bahwa riset terapan berbasis sains di perguruan tinggi mampu bertransformasi menjadi kekuatan strategis pertahanan negara. Kemandirian teknologi maritim bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan kenyataan yang kian memperkokoh martabat bangsa di mata dunia.