Menteri Kesehatan Republik Indonesia memastikan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (puskesmas) dan rumah sakit umum daerah di seluruh provinsi terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla)—termasuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan Sumatra Selatan—berada dalam status siaga darurat medis 24 jam. Kesiapsiagaan penuh ini diinstruksikan guna mengantisipasi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serangan asma, serta iritasi mata pada masyarakat akibat paparan partikulat asap beracun PM2.5.
Kemenkes menginstruksikan setiap puskesmas di zona terdampak untuk menyulap salah satu ruang perawatannya menjadi Posko Ramah Oksigen (*oxygen safe house*). Ruangan khusus ini dilengkapi dengan perangkat penyaring udara berefisiensi tinggi (*HEPA air purifier*), penyejuk udara tertutup, tabung oksigen medis, serta unit oksigen konsentrator (*oxygen concentrator*) guna memberikan terapi pertolongan pertama bagi balita, ibu hamil, dan kalangan lansia yang mengalami sesak napas akut.
Untuk melindungi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, Kementerian Kesehatan melalui dinas kesehatan setempat telah menyalurkan bantuan logistik darurat berupa lebih dari 500 ribu masker respirator standar N95 dan masker bedah tiga lapis, obat tetes mata steril, cairan bronkodilator nebulizer, serta paket vitamin peningkat imunitas tubuh secara gratis di titik-titik persimpangan jalan dan sekolah.
Para pakar pulmonologi (paru) Kemenkes mengingatkan bahwa partikulat mikro PM2.5 yang terkandung dalam asap pembakaran lahan gambut memiliki ukuran sangat halus kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga mampu menembus filter bulu hidung dan masuk jauh mengendap ke dalam alveolus paru-paru hingga aliran darah. Warga diimbau untuk membatasi aktivitas fisik berat di luar rumah, menutup celah jendela dan pintu dengan kain basah, serta memperbanyak minum air putih hangat guna membantu mengeluarkan lendir saluran pernapasan.
Dinas Kesehatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memantau indikator indeks standar pencemar udara (ISPU) secara seketika. Apabila indeks mutu udara melompat ke kategori sangat tidak sehat atau berbahaya (warna hitam), dinas pendidikan diinstruksikan meliburkan kegiatan belajar mengajar tatap muka dan beralih ke pembelajaran daring demi melindungi kesehatan anak-anak.
Tim dokter keliling (*mobile health team*) turut dikerahkan menyisir desa-desa pelosok yang terkepung kabut asap tebal untuk memeriksa kondisi warga yang tidak mampu mendatangi fasilitas puskesmas kecamatan. Pasien dengan gejala komplikasi paru berat langsung dievakuasi menggunakan ambulans berfasilitas oksigen lengkap ke rumah sakit rujukan provinsi.
Kesiapsiagaan armada medis Kemenkes menjadi benteng penyelamat nyawa rakyat di tengah ancaman bencana hidrometeorologi kering. Sinergi antara pemadaman titik api di hutan oleh satgas darat dan perlindungan kesehatan warga di pemukiman memastikan penderitaan masyarakat akibat kabut asap dapat ditekan seminimal mungkin.
Untuk melindungi kelompok paling rentan, Dinas Kesehatan setempat mengerahkan kader-kader posyandu desa untuk melakukan penyuluhan pintu ke pintu (*door-to-door counseling*) mengenai tata cara perawatan balita dan lansia di tengah kepungan asap pekat. Pembagian makanan tambahan bergizi tinggi protein dan vitamin A diberikan guna memperkuat daya tahan membran mukosa saluran napas anak dari serangan infeksi bakteri sekunder.
Kementerian Kesehatan memastikan ketersediaan anggaran operasional kesehatan darurat bagi seluruh puskesmas di wilayah terdampak bencana karhutla. Sinergi antara kesiapsiagaan tim medis di darat dan operasi pemadaman titik api di hutan membuktikan komitmen tanpa henti pemerintah dalam melindungi keselamatan jiwa seluruh tumpah darah Indonesia.
Kemenkes mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus mengedepankan pola hidup bersih dan sehat serta saling peduli membantu tetangga yang membutuhkan pertolongan medis darurat di tengah kabut asap. Kebersamaan dan gotong royong adalah kekuatan terbesar bangsa Indonesia dalam melewati berbagai tantangan bencana alam.