Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, terutama di daerah pelosok yang minim akses terhadap dokter spesialis jantung. Merespons tantangan ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan program perluasan fasilitas deteksi dini kardiovaskular di tingkat fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Menurut data resmi dari Kementerian Kesehatan yang dirilis LKBN ANTARA, sebanyak 3.200 unit alat elektrokardiogram (EKG) digital portabel berteknologi kecerdasan buatan mulai didistribusikan ke puskesmas-puskesmas di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Perangkat ini mampu membaca sinyal ritme jantung dan memberikan indikasi awal iskemia atau penyumbatan pembuluh darah koroner dalam hitungan menit.
Kemenkes juga menghubungkan seluruh perangkat tersebut ke sistem rujukan telekonsultasi nasional. Ketika tenaga medis di puskesmas menemukan anomali pada hasil rekam jantung warga, data tersebut dapat langsung ditransmisikan dan dieksaminasi secara seketika oleh tim dokter spesialis jantung di rumah sakit rujukan provinsi.
Menteri Kesehatan menegaskan bahwa penguatan puskesmas melalui deteksi dini merupakan strategi paling hemat biaya dan berdampak langsung untuk menyelamatkan nyawa masyarakat. Dengan penanganan cepat pada fase golden period, komplikasi serangan jantung akut yang fatal dapat dicegah sebelum pasien terlambat dirujuk.