PT MRT Jakarta (Perseroda) secara resmi melakukan serah terima inventarisasi lebih dari 4.000 artefak bersejarah dan objek cagar budaya hasil ekskavasi arkeologi bawah tanah proyek pembangunan jalur kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Fase 2A kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Acara serah terima yang berlangsung khidmat di Museum Sejarah Jakarta ini menandai keberhasilan integrasi antara pembangunan infrastruktur transportasi publik modern dan sains penyelamatan warisan cagar budaya (*rescue archaeology*).

Ribuan benda cagar budaya tersebut ditemukan selama proses penggalian terowongan bawah tanah jalur Thamrin menuju Kota Tua yang melintasi lapisan sedimen tanah dari abad ke-17 hingga abad ke-20. Koleksi temuan yang diserahkan sangat beragam dan memiliki nilai sains historis tinggi, meliputi pecahan keramik porselen dinasti Tiongkok era Ming dan Qing, botol-botol kaca obat VOC Eropa, koin-koin tembaga kuno, peluru meriam besi, tembikar lokal gerabah nusantara, pipa tembakau tanah liat, hingga struktur bantalan kayu dan rel jalur trem Batavia masa kolonial.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) DKI Jakarta menerangkan bahwa seluruh proses ekskavasi arkeologi bawah tanah ini menerapkan kaidah sains stratigrafi tanah yang sangat ketat. Setiap lapisan tanah yang dibuka oleh mesin bor terowongan (*tunnel boring machine* / TBM) melalui proses pemindaian sensor georadar (*ground-penetrating radar*) dan pencatatan koordinat titik temu tiga dimensi digital sebelum artefak diangkat dan dibersihkan di laboratorium konservasi.

Melalui penanggalan radiokarbon (*radiocarbon dating*) dan analisis tipologi material, para peneliti arkeologi dapat merekonstruksi pola dinamika kehidupan sosial perniagaan masyarakat kosmopolitan Sunda Kelapa dan Batavia masa lampau. Temuan keramik maritim membuktikan posisi strategis muara Sungai Ciliwung sebagai salah satu simpul perdagangan rempah dan sutra tersibuk di kawasan Asia Tenggara sejak ratusan tahun silam.

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan memastikan bahwa ribuan artefak ini akan dikonservasi secara ilmiah dan dipamerkan untuk umum di Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, serta di galeri eksibisi khusus (*underground heritage gallery*) yang sedang dibangun terintegrasi di stasiun MRT bawah tanah Kota Tua dan Harmoni. Dengan demikian, para pengguna kereta MRT di masa depan dapat menikmati perjalanan transit sembari menyaksikan langsung jejak peradaban kota mereka.

Direktur Utama PT MRT Jakarta menegaskan bahwa perseroan berkomitmen penuh membuktikan bahwa kemajuan peradaban modern tidak boleh mengorbankan memori sejarah bangsa. Pembangunan kota modern yang beradab adalah pembangunan yang menghormati akar kebudayaan masa lalunya.

Kolaborasi gemilang antara sains arkeologi dan rekayasa konstruksi sipil MRT Jakarta menjadi teladan inspiratif bagi proyek infrastruktur strategis nasional di kota-kota tua lainnya di Indonesia, memastikan warisan adiluhung nenek moyang tetap terjaga lestari di tengah gemuruh derap modernisasi ibu kota.

Tim kurator Museum Sejarah Jakarta kini tengah melakukan proses katalogisasi digital 3D terhadap seluruh artefak temuan MRT Fase 2A guna mempermudah akses penelitian akademis bagi para ilmuwan sejarah dari seluruh dunia. Data digital artefak ini akan diintegrasikan ke dalam portal kebudayaan terbuka yang dapat diakses oleh pelajar dan masyarakat luas secara gratis.

Keberhasilan penyelamatan cagar budaya bawah tanah ini membuktikan bahwa modernisasi sistem transportasi massal ibu kota mampu berjalan selaras dengan pelestarian memori kolektif peradaban masa lampau. Jejak peradaban Batavia yang terungkap di jalur kereta MRT menjadi jembatan edukasi berharga yang memperkaya kebanggaan identitas kebudayaan warga kota Jakarta.

Penelitian arkeologi yang terus dikembangkan ini membuka cakrawala baru mengenai sejarah maritim dan dinamika sosial masyarakat pesisir nusantara di masa lampau. Merawat artefak bersejarah adalah wujud penghormatan kita terhadap warisan kebijaksanaan nenek moyang demi memperkokoh jati diri kebangsaan.