Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiagakan dan melakukan uji operasional berkala terhadap ratusan unit generator kabut air (*water mist generator*) yang terpasang di puncak gedung-gedung tinggi perkantoran dan pemerintahan di kawasan segitiga emas ibu kota. Langkah mitigasi sains rekayasa lingkungan ini disiapkan sebagai benteng pertahanan atmosferik perkotaan guna mengantisipasi potensi kiriman sebaran partikulat asap kebakaran lahan dari wilayah barat laut dan selatan Jawa.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menjelaskan bahwa teknologi *water mist* bekerja berdasarkan prinsip mikrofisika tumbukan partikel fluida (*fluid particle collision*). Nozel bertekanan tinggi berkekuatan ratusan bar menyemburkan jutaan butiran kabut air mikro dengan diameter tetesan antara 10 hingga 50 mikron ke lapisan udara ambien bebas di ketinggian puluhan meter.

Ukuran butiran kabut mikro yang sangat halus tersebut memiliki daya lekat permukaan (*surface tension*) yang optimal untuk menangkap dan mengikat partikulat polutan beracun PM2.5 dan PM10 yang melayang di udara, lalu menjatuhkannya ke permukaan tanah melalui proses deposisi basah buatan (*wet scavenging deposition*). Metode ini terbukti secara ilmiah mampu menurunkan konsentrasi partikulat polusi lokal di sekitar gedung hingga 30 persen dalam waktu operasional dua jam.

Dalam pengoperasiannya, tim peneliti mengintegrasikan sistem kendali *water mist* dengan jaringan stasiun pemantau kualitas udara otomatis (SPKU) dan sensor arah mata angin berbasis stasiun meteorologi BMKG. Penyemprotan kabut air diaktifkan secara terkoordinasi hanya pada jendela waktu terjadinya fenomena inversi suhu udara pagi dan sore hari, di mana polutan terjebak dekat dengan permukaan tanah.

Pemprov DKI memastikan bahwa seluruh air yang digunakan untuk operasional sistem *water mist* gedung tinggi ini bersumber dari instalasi pengolahan air daur ulang (*recycled wastewater*) atau air hujan yang telah disaring secara higienis, sehingga sama sekali tidak menguras cadangan air tanah maupun pasokan air perpipaan warga.

Inovasi rekayasa atmosferik perkotaan ini dipadukan dengan operasi pembersihan debu jalan protokol menggunakan armada mobil penyapu jalan otomatis (*road sweeper*) dan uji emisi kendaraan bermotor secara masif. Penanganan kualitas udara Jakarta dilakukan secara terpadu melalui pendekatan sains data lingkungan yang presisi dan berbasis bukti ilmiah (*evidence-based policy*).

Penerapan sains teknologi *water mist* di ibu kota membuktikan bahwa tantangan kompleks polusi udara di kota metropolitan dapat dimitigasi melalui kecerdasan inovasi teknologi terapan anak bangsa demi menjamin udara bersih dan sehat bagi seluruh warga Jakarta.

Selain pemasangan generator water mist di atap gedung, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengoptimalkan penanaman vegetasi pohon berdaun lebat pemecah angin (*windbreak green belt*) di perbatasan kota serta membatasi operasional kendaraan berat berbahan bakar solar kotor pada jam-jam sibuk. Data pemantauan sensor SPKU menunjukkan penurunan konsentrasi partikel debu halus secara signifikan di koridor jalan yang telah menerapkan uji coba penyemprotan kabut air berkala.

Rekayasa sains terapan berbasis teknologi fluida ini membuktikan komitmen ibu kota dalam menghadirkan solusi teknologi ramah lingkungan yang aplikatif. Dengan pemanfaatan sains data atmosfer yang presisi dan partisipasi aktif seluruh pengelola gedung, langit Jakarta senantiasa dijaga agar tetap bersih, sejuk, dan sehat bagi jutaan masyarakat yang beraktivitas di dalamnya.

Keberhasilan implementasi teknologi kabut air generator ini menjadi bukti nyata bahwa sains rekayasa lingkungan mampu memberikan jawaban konkret atas permasalahan kualitas udara perkotaan. Kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan ibu kota yang asri, sejuk, dan sehat.