BANDAR LAMPUNG — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan koordinasi pemantauan aktivitas vulkanik dan kegempaan Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Senin petang. Langkah peningkatan kewaspadaan ini dilakukan menyusul terekamnya fluktuasi gempa hembusan dan gempa vulkanik dangkal dalam rekaman seismograf pos pengamatan di Pasauran, Banten, dan Hargopancuran, Lampung Selatan.
Kepala PVMBG menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini tetap berada pada Level III (Siaga). Berdasarkan hasil analisis data visual kamera termal dan telemetri deformasi Global Navigation Satellite System (GNSS), tubuh kerucut gunung api aktif tersebut masih mengalami proses suplai magma dari kedalaman kerak bumi yang memicu pelepasan gas sulfur dioksida secara berkala ke atmosfer. Radius aman bahaya ditetapkan sejauh lima kilometer dari kawah aktif, melarang aktivitas nelayan dan pelayaran wisata mendekati pulau vulkanik tersebut.
Untuk mengantisipasi ancaman bahaya sekunder berupa potensi longsoran lereng tubuh gunung ke dasar laut yang berisiko memicu gelombang pasang atau tsunami vulkanik seperti peristiwa 2018 silam, BMKG menyiagakan jaringan sensor pasang surut air laut (*tide gauge*) otomatis, radar maritim mitigasi tsunami (*coastal HF radar*), serta kabel seismik dasar laut yang terpasang di sepanjang pesisir Selat Sunda. Sistem peringatan dini terintegrasi ini dirancang mampu memancarkan sirine evakuasi ke desa-desa pesisir dalam waktu kurang dari dua menit jika terjadi anomali muka air laut mendadak.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan bersama BPBD mengimbau masyarakat pesisir di kawasan Kalianda, Rajabasa, dan Bakauheni untuk tidak terpancing oleh kabar bohong (*hoaks*) atau rekaman video lama yang kerap disebarluaskan oleh akun-akun media sosial tidak bertanggung jawab. Warga diminta hanya mempercayai pembaruan informasi berkala yang dirilis secara resmi melalui aplikasi Magma Indonesia dan kanal komunikasi resmi BMKG.
Sosialisasi jalur evakuasi mandiri menuju bukit-bukit aman di belakang permukiman pesisir terus disegarkan kepada komunitas nelayan dan pengelola wisata pantai. Keberadaan rambu evakuasi yang jelas dan kesiapsiagaan posko ronda desa menjadi pilar ketahanan masyarakat pesisir dalam hidup berdampingan secara harmonis dengan cincin api vulkanik nusantara.
Sains vulkanologi dan sistem peringatan dini modern terbukti menjadi benteng utama penyelamat jiwa masyarakat pesisir Selat Sunda. Dengan kedisiplinan mematuhi rekomendasi para ilmuwan geologi dan ketenangan bersikap, aktivitas kemaritiman dan penyeberangan feri Merak–Bakauheni dipastikan tetap berjalan normal dan aman.
Para peneliti geologi kelautan juga terus melakukan pemetaan batimetri dasar laut di sekitar kaldera Anak Krakatau guna memantau stabilitas lereng bawah laut secara berkala. Penggunaan teknologi kapal riset nirawak (*unmanned surface vessel*) memungkinkan pengumpulan data topografi dasar laut beresolusi tinggi tanpa membahayakan keselamatan para ilmuwan dari ancaman letusan mendadak.
Kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana geologi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di wilayah cincin api nusantara. Perpaduan antara sains modern, sistem peringatan dini mutakhir, dan kearifan mitigasi lokal menjadi benteng pertahanan terbaik dalam menjaga keselamatan jutaan jiwa di kawasan Selat Sunda.
Kedisiplinan dalam mematuhi arahan para ahli geologi dan ketenangan dalam menyaring arus informasi menjadi kunci utama keselamatan warga di sekitar Selat Sunda. Hidup berdampingan secara cerdas dan siaga dengan alam adalah kearifan sejati masyarakat kepulauan nusantara.
Kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana geologi di Selat Sunda terus disempurnakan melalui simulasi gladi evakuasi rutin bersama warga pesisir. Pengetahuan mitigasi bencana yang ditanamkan sejak dini menjadi bekal berharga dalam membangun ketangguhan masyarakat yang adaptif dan tanggap bencana.