Komite Internasional Palang Merah (*International Committee of the Red Cross* / ICRC) mengeluarkan peringatan darurat kemanusiaan paling serius menyusul semakin meluasnya eskalasi konfrontasi militer di kawasan Timur Tengah, meliputi wilayah Gaza, Tepi Barat, Lebanon Selatan, dan perbatasan Laut Merah Yaman. Lembaga kemanusiaan independen tersebut memperingatkan bahwa tanpa adanya penghentian permusuhan senjata dan pembukaan koridor bantuan kemanusiaan tanpa syarat, jutaan warga sipil terancam terjerumus ke dalam bencana kemanusiaan terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Laporan lapangan para delegasi ICRC mengungkapkan kehancuran masif terhadap infrastruktur dasar yang mutlak menopang kelangsungan hidup penduduk. Jaringan transmisi listrik perkotaan, instalasi desalinasi air laut, stasiun pompa air minum, dan pusat-pusat sanitasi limbah mengalami kerusakan parah akibat serangan udara bertubi-tubi. Kelangkaan air bersih berpotensi memicu ledakan wabah penyakit kolera dan infeksi usus mematikan di kamp-kamp pengungsian yang padat.
Sektor kesehatan di wilayah terdampak perang berada di ambang kelumpuhan total. Mayoritas rumah sakit rujukan terpaksa berhenti beroperasi akibat ketiadaan pasokan bahan bakar diesel untuk menghidupkan generator listrik ruang operasi dan mesin inkubator bayi prematur. Di samping itu, stok obat bius darurat, cairan infus, dan kantong darah telah menipis hingga batas titik nol, memaksa tim medis melakukan tindakan bedah darurat dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
ICRC menyerukan kepada seluruh pihak yang bertikai untuk mematuhi kewajiban mutlak hukum humaniter internasional (*International Humanitarian Law*) sebagaimana termaktub dalam Konvensi Jenewa. Serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil, personel medis yang bertugas, ambulans, dan rumah sakit merupakan pelanggaran hukum berat yang tidak dapat dibenarkan dengan dalih strategi militer apa pun.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri kembali menegaskan posisi konsisten bangsa dalam mengutuk keras kekerasan senjata dan agresi yang menyasar warga sipil tidak berdosa. Indonesia mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil tindakan nyata yang mengikat guna memberlakukan gencatan senjata segera dan memastikan akses pengiriman logistik bantuan pangan PBB dapat masuk tanpa hambatan.
Indonesia juga terus menyalurkan bantuan kemanusiaan logistik obat-obatan, tenda pengungsian, dan paket makanan siap saji yang dikirimkan melalui jalur diplomasi udara berkoordinasi dengan otoritas kemanusiaan ICRC dan Bulan Sabit Merah. Diplomasi perdamaian tanpa henti disuarakan agar gencatan senjata permanen terwujud demi melindungi hak hidup anak-anak, perempuan, dan warga sipil tak berdaya.
Seruan dari ICRC ini menjadi panggilan moral mendesak bagi komunitas internasional untuk bersatu menghentikan spiral kekerasan di Timur Tengah. Menyelamatkan nyawa manusia dan memulihkan martabat kemanusiaan harus diletakkan sebagai prioritas tertinggi di atas segala kepentingan geopolitik kekuatan-kekuatan dunia.
Delegasi ICRC di Jenewa menggarisbawahi bahwa pemulihan akses kemanusiaan harus dijamin secara mutlak tanpa diskriminasi politis, mengingat musim dingin yang kian mendekat di kawasan Timur Tengah akan melipatgandakan penderitaan para pengungsi yang bertahan di tenda-tenda darurat tanpa penghangat dan selimut yang memadai. Komunitas donor global diimbau untuk segera mengalirkan dana talangan darurat guna mendanai pasokan bahan bakar instalasi air bersih.
Organisasi Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan jejaring relawan kemanusiaan tanah air terus bersiap mengirimkan tim medis darurat tambahan dan obat-obatan esensial begitu koridor perbatasan aman dibuka secara resmi. Solidaritas persaudaraan umat manusia yang tak mengenal sekat negara ini menjadi tumpuan harapan bagi jutaan warga tak berdosa untuk bertahan hidup di tengah kepungan deru senjata.