Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan surat edaran panduan klinis kewaspadaan nasional bagi tenaga medis dan para orang tua terkait tingginya risiko dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan organ pernapasan anak-anak dan balita. IDAI menegaskan bahwa anak-anak memiliki kerentanan fisiologis hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang dewasa terhadap bahaya partikulat mikroskopis beracun PM2.5.

Ketua Umum IDAI menjelaskan bahwa frekuensi napas anak per menit jauh lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga volume udara tercemar yang terhirup ke dalam alveolus paru mereka relatif lebih besar per kilogram berat badan. Di samping itu, diameter saluran napas anak yang masih sangat sempit serta sistem imunitas mukosa epitel saluran pernapasan yang belum matang sempurna membuat paparan asap karhutla sangat mudah memicu bronkospasme akut, radang paru pneumonia, serta kekambuhan asma parah.

IDAI merekomendasikan langkah protektif terstruktur bagi para orang tua di wilayah terdampak kabut asap, seperti Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Anak-anak diinstruksikan untuk sepenuhnya membatasi aktivitas bermain di luar rumah ketika indeks standar pencemar udara (ISPU) telah menunjukkan warna kuning (tidak sehat) atau merah (sangat tidak sehat).

Apabila anak terpaksa keluar rumah, orang tua wajib memakaikan masker dengan ukuran yang pas (*well-fitted mask*) menutup rapat area hidung dan dagu tanpa celah kebocoran udara. Di dalam rumah, keluarga diimbau menyalakan mesin penjernih udara (*air purifier*) bersertifikat filter HEPA atau menempatkan tanaman pembersih udara alami seperti sansevieria di ruang tidur, serta menghindari kebiasaan merokok atau membakar sampah di pekarangan.

Para dokter spesialis anak mengimbau para orang tua untuk segera membawa anak ke puskesmas atau instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit apabila menemukan tanda bahaya pernapasan (*red flags*). Tanda-tanda bahaya tersebut meliputi napas cepat yang disertai tarikan dinding dada ke dalam (*retraksi subkostal*), napas berbunyi mengi (*wheezing*), bibir atau ujung kuku membiru (*sianosis*), anak tampak lemas lunglai, serta menolak minum air susu ibu (ASI) atau cairan oral.

IDAI bersama Kementerian Kesehatan memastikan ketersediaan pasokan obat bronkodilator cair, alat nebulizer ramah anak, serta tabung oksigen bertekanan rendah di seluruh fasilitas layanan kesehatan primer di kawasan terdampak asap.

Perlindungan terhadap kesehatan paru generasi penerus bangsa adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Dengan edukasi medis yang tepat dan kesiapsiagaan tanggap darurat yang cepat, anak-anak Indonesia dapat terlindungi dari bahaya kerusakan organ pernapasan permanen demi masa depan tumbuh kembang yang optimal.

IDAI merekomendasikan dinas kesehatan daerah untuk memperluas distribusi ruang ramah oksigen (*oxygen safe haven*) di balai-balai desa dan posyandu percontohan yang dilengkapi mesin penyaring udara partikulat HEPA. Fasilitas ini menjadi tempat perlindungan darurat bagi para ibu dan balita yang rumahnya tidak memiliki penyejuk ruangan tertutup di saat indeks kabut asap melonjak berbahaya.

Para dokter spesialis anak mengimbau para orang tua untuk memastikan asupan cairan dan gizi balita tetap terpenuhi dengan baik melalui pemberian ASI eksklusif dan makanan bergizi seimbang kaya antioksidan. Kewaspadaan dini dan tindakan medis yang cepat menjadi kunci utama dalam melindungi organ pernapasan anak-anak dari ancaman kerusakan jangka panjang demi tumbuh kembang generasi bangsa yang sehat dan tangguh.

Edukasi kesehatan yang berkesinambungan dan kesiapsiagaan layanan medis primer menjadi benteng penyelamat nyawa anak-anak di tengah tantangan anomali iklim dan bencana kabut asap. Dengan kepedulian bersama antara orang tua, tenaga medis, dan pemerintah, kesehatan generasi penerus bangsa dapat senantiasa terlindungi secara optimal.