JAKARTA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menerbitkan surat edaran kewaspadaan dini bagi seluruh dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota menyusul meningkatnya potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit infeksi saluran pencernaan di tengah anomali musim kemarau panjang, Selasa pagi. Menurunnya debit sumber air baku dan berkurangnya pasokan air perpipaan meningkatkan risiko kontaminasi bakteri patogen, seperti *Escherichia coli*, *Salmonella*, dan *Shigella*, pada sumur-sumur dangkal yang digunakan warga untuk kebutuhan memasak dan konsumsi sehari-hari.

Peringatan preventif ini juga berkaca dari laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait wabah gastroenteritis akut massal yang baru-baru ini melanda ribuan warga di kawasan Laut Hitam akibat tercemarnya jaringan distribusi air minum kota pascabencana alam. Di Indonesia, Kemenkes mencatat adanya peningkatan tren kunjungan pasien diare, muntah-muntah, dan demam tifoid pada fasilitas pelayanan kesehatan primer di wilayah-wilayah yang mengalami krisis air bersih di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes mengingatkan keluarga Indonesia akan pentingnya mempraktikkan pengolahan air minum aman sebelum dikonsumsi. Air baku dari sumur atau tangki penampungan wajib dimasak hingga mendidih sempurna bergelembak (*rolling boil*) selama minimal 2 hingga 3 menit guna memastikan seluruh mikroorganisme dan kista parasit mati sebelum air diminum. Bagi masyarakat yang menggunakan air minum isi ulang, disarankan memilih depo yang telah memiliki sertifikat laik higienis sanitasi resmi dari dinas kesehatan.

Kemenkes juga menekankan edukasi pemberian asupan gizi aman bagi bayi dan balita. Orang tua dan pengasuh diimbau untuk tidak pernah memberikan bahan pangan mentah atau setengah matang, seperti telur mentah atau susu yang tidak dipasteurisasi, kepada anak di bawah usia lima tahun karena sistem kekebalan tubuh saluran cerna mereka masih sangat rentan terhadap racun bakteri *Salmonella* yang dapat berakibat fatal.

Petugas sanitasi lingkungan di Puskesmas diinstruksikan untuk menggencarkan uji petik kualitas air secara berkala (*water quality testing*) menggunakan kit penguji klorin dan uji mikrobiologi cepat di sentra-sentra penampungan air darurat serta kantin sekolah. Pembagian kaporit cair dan bubuk oralit dipercepat di kantong-kantong permukiman terdampak kekeringan guna mencegah dehidrasi parah pada pasien anak.

Air bersih dan sanitasi higienis adalah fondasi utama keselamatan keluarga. Dengan disiplin menerapkan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun di air mengalir dan merebus air minum secara higienis, masyarakat Indonesia dapat membentengi diri dari ancaman wabah penyakit saluran cerna dan menjaga kesehatan keluarga tetap prima.

Untuk menjamin kepatuhan higienitas air minum di fasilitas publik, dinas kesehatan daerah menginstruksikan pengelola gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sekolah untuk melakukan pembersihan berkala tandon air penampungan (*water tank cleaning*) minimal setiap tiga bulan sekali. Uji residu klorin dan inspeksi visual jaringan pipa distribusi air bersih diwajibkan guna mencegah pertumbuhan koloni bakteri berbahaya di saluran pipa.

Pemberdayaan kader kesehatan posyandu turut dioptimalkan dalam melakukan penyuluhan pintu ke pintu (*door-to-door counseling*) mengenai tata cara pembuatan larutan oralit darurat dan pengenalan gejala awal infeksi saluran cerna pada balita. Akses cepat terhadap pengobatan cairan rehidrasi oral terbukti mampu menurunkan angka kematian akibat dehidrasi akut hingga mendekati nol persen.

Menjaga kebersihan sumber air minum dan sanitasi lingkungan adalah investasi kesehatan paling mendasar bagi masa depan bangsa. Dengan kewaspadaan bersama dan kebiasaan hidup bersih yang konsisten, masyarakat Indonesia dapat membentengi diri dari ancaman penyakit infeksi saluran cerna secara mandiri dan berkelanjutan.