Fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal akibat kenaikan suhu permukaan air laut telah mengancam ekosistem pesisir di berbagai penjuru dunia. Namun, sebuah studi lapangan jangka panjang yang dipublikasikan oleh para ilmuwan kelautan membawa kabar menggembirakan bagi upaya konservasi biota maritim nusantara.

Melansir ulasan mendalam di platform ilmiah The Conversation Indonesia, para peneliti dari konsorsium riset biologi laut nasional berhasil memetakan populasi terumbu karang dari genus Acropora dan Porites di perairan Maluku Utara yang tetap sehat dan tidak mengalami pemutihan meski terpapar anomali panas laut ekstrem selama lebih dari enam bulan berturut-turut.

Analisis metagenomik seluler mengindikasikan bahwa ketahanan tersebut bersumber dari simbiosis unik dengan alga mikroskopis Cladocopium yang memiliki membran sel tahan panas serta enzim antioksidan berkonsentrasi tinggi. Karakteristik biokimia ini melindungi jaringan karang dari kerusakan stres oksidatif yang biasanya memicu pelepasan zooxanthellae.

Temuan ini kini dijadikan dasar ilmiah untuk program pembibitan super-coral (karang tangguh). Bibit-bibit karang berketahanan tinggi ini akan dibudidayakan di fasilitas pembibitan buatan untuk kemudian ditransplantasikan ke wilayah-wilayah terumbu karang yang telah mengalami degradasi parah di sepanjang sabuk Segitiga Terumbu Karang dunia.