Provinsi Sulawesi Utara secara resmi menjadi tuan rumah perhelatan agrikultur internasional World Coconut Day 2026 yang berlangsung di Kota Manado mulai Rabu (7/10/2026) hingga Sabtu (10/10/2026). Bertempat di kawasan Courtyard by Marriott Manado, agenda akbar tahunan ini dihadiri oleh puluhan delegasi kehormatan, periset pertanian, pelaku industri pengolahan, serta perwakilan pejabat kementerian dari 27 negara produsen dan konsumen komoditas kelapa di seluruh penjuru dunia.

Pertemuan berskala internasional ini terselenggara atas kemitraan strategis antara International Coconut Community (ICC) dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Penunjukan Sulawesi Utara sebagai episentrum perhelatan dinilai sangat beralasan dan representatif, mengingat provinsi yang masyhur dengan julukan 'Bumi Nyiur Melambai' ini merupakan salah satu benteng perkebunan kelapa terbesar di Indonesia, dengan tradisi pengolahan kelapa yang telah mengakar lintas generasi.

Peringatan World Coconut Day tahun 2026 mengusung tema 'Coconut in Times of Uncertainty: Securing Food, Energy, and Livelihoods'. Tema ini mencerminkan urgensi komoditas kelapa sebagai pilar ketahanan pangan nabati dunia, sumber energi hijau terbarukan melalui pengembangan bahan bakar nabati (biofuel), serta tumpuan mata pencaharian ekonomi bagi jutaan keluarga petani kecil di tengah ancaman krisis iklim ekstrem global.

Rangkaian acara yang berlangsung selama empat hari penuh ini memadukan pameran inovasi produk olahan kelapa (7–9 Oktober), festival paduan suara seni budaya, simposium ilmiah antarbangsa, hingga forum penjajakan kerja sama bisnis (business matching) antarinvestor global. Pemerintah Indonesia memanfaatkan momentum berharga ini untuk mendorong alih teknologi pengolahan kelapa terpadu berprinsip tanpa limbah (zero-waste coconut processing), di mana setiap unsur pohon kelapa—mulai dari daging buah, air kelapa, sabut, batok, hingga pelepah daun—dapat diolah menjadi komoditas industri berharga tinggi.

Pejabat Kementerian Pertanian yang hadir dalam sesi pembukaan menegaskan arah kebijakan pemerintah pusat dalam mempercepat program peremajaan (replanting) pohon kelapa rakyat yang telah berusia tua dan tidak produktif. Melalui integrasi teknologi industri modern dan kemitraan koperasi petani, komoditas kelapa Indonesia ditargetkan mampu bertransformasi dari sekadar ekspor bahan mentah (kopra) menjadi pengekspor utama produk hilir bernilai tambah tinggi seperti minyak kelapa murni (VCO), santan kemasan siap konsumsi, briket arang batok kelapa aktif untuk industri penyaring, serta serat sabut kelapa (cocopeat) untuk media tanam global.

Selain bernilai ekonomi, pengembangan perkebunan kelapa juga memiliki dimensi ekologis yang sangat vital bagi pelestarian wilayah pesisir kepulauan Indonesia. Pohon kelapa terbukti ampuh mencegah abrasi pantai, menahan hempasan angin kencang laut, serta berfungsi sebagai penyerap emisi karbon alami yang efektif. Penguatan budidaya kelapa berkelanjutan dinilai sebagai solusi ganda yang memadukan peningkatan taraf hidup petani pedesaan dengan mitigasi perubahan iklim di wilayah pesisir tropis.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyatakan komitmen penuh jajarannya untuk memfasilitasi kemitraan investasi langsung antara korporasi global dengan kelompok tani kelapa lokal. Menurutnya, hilirisasi industri kelapa di Sulawesi Utara tidak hanya akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa ekspor, melainkan juga membuka ribuan lapangan kerja baru di sektor pengolahan agroindustri modern serta memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat pedesaan dari gejolak harga komoditas mentah dunia.

Kementerian Perdagangan turut menjajaki pembukaan akses pasar ekspor baru ke kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk turunan kelapa organik. Fasilitasi pembiayaan ekspor dan sertifikasi keberlanjutan internasional disiapkan bagi pelaku usaha mikro dan koperasi pertanian daerah.

Dengan partisipasi aktif delegasi 27 negara, World Coconut Day 2026 di Manado diharapkan menghasilkan Deklarasi Manado yang menjadi cetak biru tata niaga kelapa berkelanjutan dunia, memperkuat posisi tawar petani kelapa, dan meneguhkan Indonesia sebagai pemain kunci pasar kelapa internasional yang disegani di kancah perdagangan komoditas dunia.