Pergeseran gaya hidup menuju pola makan sehat kini kian dirasakan di kota-kota besar Indonesia. Bila beberapa tahun lalu beras putih premium menjadi menu pokok tanpa alternatif, kini semakin banyak kaum muda dan keluarga urban yang beralih menyukai aneka biji-bijian dan umbi-umbian nusantara yang kaya nutrisi.
Melansir liputan mendalam dari BBC News Indonesia, tren ini didorong oleh kekhawatiran terhadap lonjakan kasus prediabetes dan resistensi insulin pada usia produktif. Bahan pangan seperti sorgum, jewawut, dan ubi jalar ungu memiliki indeks glikemik yang jauh lebih rendah dibandingkan nasi putih biasa, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah drastis setelah makan.
Selain manfaat indeks glikemik yang aman, sorgum lokal kaya akan kandungan serat larut air dan senyawa antioksidan polifenol. Kandungan serat yang tinggi memperlambat pengosongan lambung, memberikan rasa kenyang lebih awet, serta memberi makan mikroba baik di dalam usus besar (gut microbiota).
Para pegiat kuliner dan kedai makanan sehat di Jakarta dan Bandung juga menyambut antusias tren ini dengan mengkreasikan olahan sorgum menjadi aneka hidangan modern, mulai dari salad bowl, nasi goreng rempah sorgum, hingga camilan granola lokal. Diversifikasi pangan ini sekaligus membuka pasar menjanjikan bagi petani tanaman lahan kering di kawasan Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah.