Pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) bekerja sama dengan Perum Bulog dan pemerintah daerah serentak memperluas jangkauan program Gerakan Pangan Murah (GPM) di ratusan titik pasar rakyat di seluruh Indonesia. Langkah intervensi pasar berskala masif ini digelar pada Rabu, 4 November 2026, sebagai ikhtiar proaktif menjaga keterjangkauan harga sembako dan memperkokoh daya beli masyarakat.

Melansir laporan komprehensif InfoPublik.id, operasi pasar terpadu ini digelar serentak di 250 lokasi yang mencakup kantor kecamatan, balai desa, pelataran pasar tradisional, dan permukiman padat penduduk. Komoditas yang didistribusikan meliputi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), minyak goreng kemasan Minyakita, gula pasir konsumsi, telur ayam ras, tepung terigu, serta komoditas cabai segar langsung dari kelompok tani binaan.

Kepala Badan Pangan Nasional menyampaikan bahwa pasokan beras program SPHP kemasan 5 kilogram dijual dengan harga patokan Rp58.000 atau setara Rp11.600 per kilogram, berada jauh di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) pasar bebas yang sempat menyentuh Rp13.500 per kilogram. Penjualan dibatasi maksimal dua kantong per konsumen guna mencegah aksi penimbunan oleh pedagang perantara.

Direktur Utama Perum Bulog menegaskan bahwa posisi cadangan beras pemerintah (CBP) di seluruh jaringan gudang logistik saat ini berada pada level yang sangat aman, yakni mencapai 2,1 juta ton. Ketersediaan stok tersebut dijamin mencukupi untuk memenuhi kebutuhan bantuan pangan sosial, penyaluran operasi pasar, dan penanganan tanggap darurat bencana hingga pertengahan tahun depan.

Para ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro kuliner menyambut antusias pelaksanaan pangan murah ini. Antrean warga yang tertib terpantau di berbagai kota besar seperti Surabaya, Medan, Makassar, dan Semarang, di mana seluruh paket sembako ludes terserap dalam hitungan beberapa jam.

Pemerintah daerah memastikan Gerakan Pangan Murah akan terus diselenggarakan secara bergilir dua kali sepekan hingga pergantian tahun demi memastikan tingkat inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) tetap terkendali pada batas target psikologis di bawah 3 persen.

Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah serentak ini juga melibatkan jaringan kemitraan bersama Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dan Koperasi Petani Cabai Nasional. Melalui integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir, pasokan cabai merah keriting dan bawang merah didatangkan langsung dari sentra produksi Brebes, Enrekang, dan Magelang tanpa melalui perantara spekulan tengkulak.

Selain komoditas beras dan cabai, paket pangan murah ini menyediakan minyak goreng kemasan bersubsidi Minyakita seharga Rp14.000 per liter dan gula pasir konsumsi seharga Rp16.000 per kilogram. Kualitas komoditas yang disalurkan dipastikan memenuhi standar mutu pangan higienis yang diawasi langsung oleh petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di lokasi operasi pasar.

Kementerian Pertanian turut mengonfirmasi bahwa musim panen raya padi di sejumlah lumbung pangan utama, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, berjalan optimal berkat bantuan sarana irigasi pompanisasi yang beroperasi penuh di lahan-lahan tadah hujan. Dengan pasokan gabah kering panen yang melimpah, stok beras nasional dijamin berada dalam posisi surplus yang kokoh.

Program intervensi pangan murah ini akan terus digulirkan secara terpadu hingga menyentuh kawasan perumahan buruh pabrik dan kantong-kantong permukiman prasejahtera. Pendekatan jemput bola ini membuktikan kehadiran negara dalam menjamin ketersediaan pangan bergizi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat di tengah dinamika ekonomi global.

Badan Pangan Nasional memastikan bahwa operasi pangan murah ini akan terus diperluas ke daerah-daerah terpencil yang mengalami defisit pasokan komoditas. Melalui komitmen sinergi antardaerah dan penguatan logistik pangan nasional, ketersediaan bahan kebutuhan pokok dengan harga stabil dan terjangkau dijamin akan tetap terjaga secara konsisten bagi seluruh rakyat Indonesia.