ROMA — Delegasi Republik Indonesia memukau para delegasi dari 190 negara anggota dalam pembukaan sidang tahunan Komite Ketahanan Pangan Dunia (Committee on World Food Security / CFS) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang berlangsung di Markas Besar FAO, Roma, Italia, Senin petang. Indonesia memamerkan berbagai produk inovasi hilirisasi pangan lokal bernilai tambah tinggi yang menjadi bukti keberhasilan program diversifikasi pangan nasional berbasis komoditas non-beras.

Di tengah ancaman krisis pangan global yang dipicu oleh konflik geopolitik di zona lumbung gandum dunia serta anomali iklim kekeringan panjang, pendekatan Indonesia dalam membangkitkan komoditas pangan asli nusantara seperti sagu Papua, sorgum Nusa Tenggara, porang Jawa Timur, dan singkong Lampung mendapatkan apresiasi luar biasa dari para pakar agronomi internasional. Komoditas-komoditas ini terbukti memiliki daya tahan alami (*climate resilience*) yang tinggi terhadap kekeringan ekstrem dan mampu tumbuh subur di lahan marginal tanpa memerlukan pupuk kimia berlebih.

Ketua Delegasi Indonesia dalam pidato panel resminya menyampaikan bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar upaya alternatif darurat, melainkan strategi kedaulatan jangka panjang yang menjamin keberlanjutan gizi bangsa. Melalui sentuhan teknologi pengolahan pangan modern, tepung sagu dan sorgum lokal kini telah berhasil diolah menjadi aneka produk mi bebas gluten (*gluten-free noodles*), biskuit nutrisi tinggi anti-stunting, serta bahan baku pakan ternak ramah lingkungan yang diminati pasar ekspor Eropa.

Pemerintah Indonesia juga berbagi praktik baik (*best practices*) terkait pemberdayaan petani perempuan dan kelompok tani hutan desa dalam rantai pasok agroforestri pangan. Model pertanian terpadu yang memadukan tanaman palawija dengan pohon buah-buahan hutan terbukti mampu menjaga tutupan kanopi tanah, meningkatkan serapan karbon dioksida di atmosfer, serta melipatgandakan pendapatan ekonomi keluarga petani pedesaan secara mandiri.

Direktur Jenderal FAO dalam sambutannya memuji peran kepemimpinan Indonesia di kawasan Asia Pasifik yang dinilai konsisten mentransformasi sistem pangan pertanian (*agrifood systems*) menuju arah yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan tahan guncangan. FAO mendorong negara-negara berkembang lainnya untuk mereplikasi model diversifikasi berbasis pangan lokal nusantara sebagai solusi konkret dalam mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 2: Tanpa Kelaparan).

Keikutsertaan aktif Indonesia di forum tertinggi pangan dunia ini membuktikan bahwa kekayaan agraris nusantara memiliki kontribusi nyata dalam memecahkan tantangan krisis peradaban global. Dari kekayaan tanah pertiwi, Indonesia hadir membawa solusi ketahanan pangan yang berkeadilan bagi seluruh warga bumi.

Dalam sidang komite ketahanan pangan tersebut, Indonesia juga menandatangani sejumlah nota kesepahaman kerja sama teknis di bidang transfer teknologi benih unggul tahan salinitas dan mekanisasi pascapanen bersama beberapa negara mitra di Afrika dan Amerika Latin. Semangat kerja sama Selatan-Selatan ini mempertegas peran aktif Indonesia dalam mempromosikan solidaritas kemanusiaan antarbangsa.

Dengan kekayaan plasma nutfah yang melimpah dan komitmen riset pertanian yang terus diperkuat, Indonesia optimis mampu menjadi salah satu lumbung pangan dunia yang mandiri, berdaya tahan tinggi, dan menjadi rujukan utama bagi peradaban global dalam mewujudkan kedaulatan pangan berkelanjutan.

Pencapaian diplomasi pangan Indonesia di markas besar FAO menegaskan bahwa bangsa ini tidak hanya mampu mandiri secara pangan di dalam negeri, melainkan siap berbagi solusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan dunia di tengah ketidakpastian iklim global yang kian menantang.

Partisipasi aktif delegasi Indonesia di forum pangan internasional membuktikan peran strategis kepemimpinan diplomasi nusantara dalam menjembatani kepentingan negara-negara berkembang. Melalui transfer pengetahuan dan kemitraan riset terbuka, Indonesia siap menjadi pelopor terwujudnya sistem pangan dunia yang berkelanjutan, adil, dan tangguh menghadapi dinamika masa depan.