Ratusan mahakarya sinema analog dari era pertengahan abad ke-20 yang sempat terancam musnah akibat kerusakan kimiawi pita seluloid kini berhasil diselamatkan. Melalui kerja sama lintas negara, arsip-arsip berharga tersebut telah berhasil dialihmediakan dan diperbaiki kualitas visual serta suaranya secara cermat.
Sebagaimana diwartakan oleh kantor berita Anadolu Agency (AA), proyek konservasi warisan audiovisual dunia ini melibatkan para arsiparis film ternama dari berbagai negara. Pita seluloid berukuran 35mm dan 16mm yang telah lapuk, berjamur, atau pudar warnanya dibersihkan menggunakan pemindaian ultrasonik tanpa merusak fisik film asli.
Setelah proses pembersihan fisik, setiap bingkai gambar dipindai ke dalam format digital resolusi ultra-tinggi 4K. Tim ahli kemudian memanfaatkan algoritma pemulihan citra untuk menghilangkan goresan, menstabilkan getaran gambar, dan merekonstruksi spektrum warna asli film persis seperti saat pertama kali diputar di bioskop puluhan tahun silam.
Salah satu arsip yang berhasil direstorasi mencakup rekaman dokumenter historis Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 serta film-film drama fiksi realisme sosial karya sineas maestro Indonesia, Turki, dan Mesir. Koleksi film hasil restorasi ini akan dapat diakses secara terbuka oleh publik dan peneliti kebudayaan dunia melalui repositori digital perpustakaan internasional.