Kekayaan khazanah musik tradisional nusantara kembali membuktikan daya pikat universalnya saat dikemas dalam balutan aransemen kontemporer yang segar. Gelaran tahunan Festival Suara Nusantara yang digelar di panggung amfiteater terbuka Candi Prambanan berhasil memukau ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Anadolu Agency (AA), panggung pertunjukan menghadirkan kolaborasi lintas generasi antara maestro musik karawitan gamelan, pemain petik sasando asal Nusa Tenggara Timur, serta kuartet gesek orkestra simfoni modern. Harmoni tangga nada pentatonik tradisional berpadu mulus dengan harmoni nada diatonik barat menciptakan komposisi sonik yang megah dan emosional.

Para komposer muda yang tampil dalam gelaran ini menegaskan misi pelestarian warisan budaya melalui pendekatan adaptif. Alih-alih membatasi musik tradisi dalam museum ritual, eksplorasi bunyi modern membuat instrumen bambu dan perunggu nusantara relevan di telinga generasi muda pendengar layanan streaming digital.

Kementerian Kebudayaan menyatakan komitmennya untuk membawa aransemen gubahan anak bangsa ini dalam tur festival musik dunia tahun depan. Langkah diplomasi kebudayaan ini diharapkan terus memperkokoh citra Indonesia sebagai episentrum kreativitas seni pertunjukan Asia di kancah internasional.