JAKARTA — Kesadaran masyarakat perkotaan terhadap prinsip kesejahteraan hewan (*animal welfare*) dan kesehatan lingkungan bersama (*One Health*) mencatatkan lonjakan partisipasi positif sepanjang tahun 2026. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur melalui Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) berkolaborasi dengan komunitas penyelamat hewan jalanan menyelenggarakan program massal sterilisasi bedah dan penyuntikan vaksin rabies cuma-cuma bagi ratusan kucing domestik dan kucing liar di Gelanggang Remaja Pulogadung, Senin petang.

Program pengendalian populasi secara humanis melalui metode tangkap-steril-lepas (*Trap-Neuter-Return* / TNR) ini dinilai para dokter hewan sebagai solusi jangka panjang paling etis dan efektif dalam menekan overpopulasi kucing liar di kawasan permukiman padat dan pasar tradisional. Tanpa intervensi sterilisasi, sepasang kucing dapat berkembang biak melahirkan puluhan anak dalam kurun waktu satu tahun, yang berujung pada penelantaran, malnutrisi, dan penderitaan hewan di jalanan kota.

Selain membatasi ledakan populasi, operasi sterilisasi memberikan manfaat kesehatan langsung bagi hewan tersebut. Kucing yang telah disterilkan memiliki risiko jauh lebih rendah terkena infeksi saluran reproduksi, kanker ovarium, dan tumor testis, serta menunjukkan perilaku yang lebih tenang tanpa kecenderungan berkelahi memperebutkan wilayah (*territorial fighting*) yang sering mengganggu ketertiban lingkungan warga malam hari.

Pemberian vaksin rabies gratis turut dipertegas guna mempertahankan status DKI Jakarta dan kota-kota penyangga sebagai daerah bebas rabies (*rabies-free zone*). Setiap hewan yang telah divonis sehat oleh dokter hewan dan menerima vaksinasi disematkan tanda pengenal di telinga (*ear-tipped*) sebagai penanda bahwa hewan jalanan tersebut telah aman dari ancaman penularan penyakit zoonosis kepada manusia.

Aktivis komunitas pecinta hewan mengapresiasi tingginya antusiasme warga pemilik hewan peliharaan yang rela mengantre sejak pagi hari demi memeriksakan kucing kesayangan mereka. Gaya hidup peduli hewan peliharaan (*pet parenting*) kini telah menjadi bagian dari identitas sosial kaum urban yang mencerminkan rasa empati tinggi terhadap makhluk hidup di sekitarnya.

Kota yang maju dan beradab tidak hanya diukur dari megahnya gedung-gedung pencakar langit, melainkan dari bagaimana warganya memperlakukan hewan-hewan tanpa suara yang hidup berdampingan di lingkungan mereka. Melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, komunitas dokter hewan, dan kesadaran masyarakat, ekosistem perkotaan yang sehat, bersih, dan penuh kasih sayang dapat terwujud secara harmonis bagi semua.

Selain sterilisasi kucing, dinas ketahanan pangan juga memfasilitasi program adopsi hewan jalanan (*adopt don't shop*) melalui kolaborasi dengan shelter penyelamat hewan independen. Hewan-hewan yang telah divaksin dan disterilkan dipertemukan dengan para calon orang tua asuh yang telah lolos verifikasi kesiapan komitmen pemeliharaan jangka panjang.

Gaya hidup berbelas kasih terhadap sesama makhluk hidup ini mencerminkan tingginya nilai keadaban warga perkotaan modern. Memperlakukan hewan jalanan dengan layak bukan hanya menciptakan lingkungan kota yang sehat dan bebas penyakit, melainkan juga memupuk rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial yang mendalam di tengah kehidupan masyarakat urban.

Kesadaran masyarakat dalam merawat hewan-hewan jalanan menjadi cerminan keluhuran budi pekerti peradaban kota modern. Menciptakan kota yang ramah dan aman bagi seluruh makhluk hidup adalah fondasi utama dalam mewujudkan harmoni kehidupan lingkungan yang sehat dan penuh berkah.

Program sterilisasi dan vaksinasi terpadu ini diharapkan dapat terus diperluas cakupannya hingga ke kota-kota satelit di sekitar Jakarta. Kemitraan harmonis antara pemerintah daerah, dokter hewan, dan masyarakat menjadi kunci terciptanya lingkungan perkotaan yang sehat, ramah hewan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kasih sayang kemanusiaan.