MAGELANG — Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, resmi mengimplementasikan tata kelola pariwisata netral karbon (*carbon neutral tourism*) secara menyeluruh pada Oktober 2026. Langkah bersejarah ini menjadikan monumen candi Buddha terbesar di dunia tersebut sebagai destinasi cagar budaya pertama di Indonesia yang mengintegrasikan pelestarian warisan budaya adiluhung dengan standar keberlanjutan lingkungan internasional nol emisi.
Transformasi hijau ini diwujudkan melalui penataan mobilitas pengunjung di seluruh zona penyangga kompleks candi. Seluruh kendaraan operasional dan shuttle bus berbahan bakar fosil telah digantikan sepenuhnya oleh armada bus listrik bertenaga baterai dan sepeda kayuh ramah lingkungan. Wisatawan yang memasuki area pelataran candi diwajibkan menggunakan alas kaki khusus bertapak karet lembut (*upanat*) guna mencegah abrasi batu andesit tangga candi akibat gesekan alas kaki keras konvensional.
Manajemen PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC) bersama Balai Konservasi Borobudur menerapkan sistem kuota kunjungan digital terpadu yang membatasi maksimal 1.200 pengunjung naik ke struktur monumen candi setiap harinya. Setiap wisatawan mendapatkan pendampingan pemandu wisata (*tour guide*) lokal bersertifikasi yang tidak hanya memaparkan filosofi relief Lalitavistara, melainkan juga menanamkan etika menjaga kebersihan dan kesakralan situs warisan dunia UNESCO tersebut.
Setiap pembelian tiket masuk terintegrasi dengan kontribusi kompensasi jejak karbon (*carbon offset contribution*). Dana tersebut dialokasikan secara transparan untuk mendanai program penanaman ribuan bibit pohon pala, kenari, dan beringin di kawasan perbukitan Menoreh di sekitar Borobudur, serta mendukung pengelolaan sampah organik mandiri berbasis biokonversi maggot di desa-desa wisata lingkar candi.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengapresiasi terobosan ini sebagai wujud pergeseran paradigma dari pariwisata massal (*mass tourism*) menuju pariwisata bermutu (*quality and sustainable tourism*). Wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa dan Asia Pasifik, menunjukkan apresiasi tinggi terhadap komitmen pelestarian ini, terbukti dengan peningkatan durasi lama tinggal (*length of stay*) dan belanja wisatawan di penginapan-penginapan ramah lingkungan di kawasan Borobudur.
Penerapan konsep netral karbon di Candi Borobudur menjadi bukti nyata bahwa pelestarian warisan peradaban masa lalu dapat berjalan selaras dengan inovasi keberlanjutan masa depan, menjaga mahakarya leluhur tetap abadi dan memesona bagi generasi bangsa berikutnya.
Pengembangan desa-desa wisata di lingkar Borobudur seperti Desa Karangrejek dan Candirejo turut menikmati imbas positif dari konsep pariwisata hijau ini. Wisatawan diajak berkeliling desa menggunakan andong bertenaga kuda dan sepeda ontel, belajar membuat gerabah tradisional, serta menikmati kuliner organik khas pedesaan yang menyehatkan jiwa dan raga.
Komitmen melestarikan keagungan Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia melalui standar pariwisata netral karbon membuktikan bahwa kemajuan pariwisata tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Model pariwisata hijau ini diharapkan dapat direplikasi di destinasi cagar budaya lainnya di seluruh nusantara.
Inovasi pariwisata netral karbon di Candi Borobudur diharapkan menjadi percontohan nasional bagi pengelolaan destinasi cagar budaya lainnya di seluruh Indonesia. Sinergi antara pelestarian nilai-nilai sejarah luhur dan komitmen keberlanjutan ekologi membuktikan bahwa pariwisata Indonesia mampu memimpin transformasi hijau di panggung pariwisata internasional.
Penerapan pariwisata hijau berkelanjutan ini diharapkan menginspirasi dunia bahwa pelestarian warisan peradaban masa lalu dapat berjalan beriringan dengan komitmen menjaga masa depan bumi yang asri dan lestari.
Komitmen konservasi terpadu di Borobudur menjadi warisan berharga bagi generasi penerus untuk terus merawat kearifan lokal dan kelestarian ekosistem bumi secara harmonis.