Plaza Kori Agung dan pelataran Candi Bentar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, berubah menjadi lautan pesona kebudayaan tradisional saat ratusan penari mementaskan pagelaran seni pertunjukan kolosal legendaris asal Banyuwangi bertajuk "Gandrung Sewu di Ibu Kota". Pertunjukan seni akbar ini menyedot animo ribuan warga metropolitan, penikmat seni pertunjukan, serta deretan duta besar negara sahabat yang terhipnotis oleh keanggunan gerak rancak dan kekayaan filosofi seni budaya nusantara.
Dengan balutan busana adat khas penari Gandrung berwarna merah menyala, kain batik motif gajah oling, mahkota omprog keemasan, serta kipas kuning yang dikibaskan serempak, para penari muda menampilkan formasi dinamis yang meliuk harmonis mengikuti alunan irama musik gamelan Osing yang magis dan bertenaga. Setiap hentakan kaki dan ayunan selendang penari membawakan narasi sejarah perjuangan rakyat Blambangan di masa lampau dalam menjaga kedaulatan tanah leluhur dengan penuh keberanian dan keanggunan budi pekerti.
Bupati Banyuwangi yang hadir langsung mendampingi delegasi seniman menyampaikan bahwa pertunjukan Gandrung Sewu di TMII merupakan wujud nyata diplomasi kebudayaan daerah ke panggung nasional dan internasional. Seni tradisi Gandrung yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia membuktikan bahwa seni rakyat mampu bertransformasi menjadi atraksi pertunjukan kelas dunia tanpa kehilangan kesakralan akar sejarahnya.
Pihak manajemen TMII menyatakan kebanggaannya dapat menjadi wadah panggung representasi kebudayaan daerah berkelas tinggi pascarevitalisasi kawasan TMII sebagai ruang publik hijau dan ramah pejalan kaki. Pementasan kolosal ini turut disiarkan secara langsung melalui platform digital ke berbagai perwakilan budaya Indonesia di luar negeri, menjangkau ratusan ribu diaspora nusantara di mancanegara.
Selain atraksi tari kolosal, pagelaran ini dimeriahkan dengan pameran busana kriya omprog Gandrung, lokakarya membatik motif tradisional Blambangan, serta sajian kuliner khas Banyuwangi seperti sego tempong pedas dan rujak soto yang ludes diserbu para pengunjung festival budaya. Kehadiran ruang apresiasi seni ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi puluhan pelaku UMKM seni dan cinderamata daerah yang diboyong ke Jakarta.
Tepuk tangan meriah dan standing ovation bergemuruh panjang saat seluruh penari menutup pertunjukan dengan formasi kipas kolosal bertuliskan pesan perdamaian bagi nusantara. Para penonton, terutama kalangan generasi muda zilenial, mengaku takjub dan bangga melihat warisan seni nenek moyang disajikan secara megah, anggun, dan berwibawa di panggung terbuka.
Kemegahan Gandrung Sewu di TMII menjadi bukti abadi bahwa seni tradisi nusantara memiliki daya magis dan daya pikat yang tidak akan pernah pudar oleh arus modernisasi zaman. Menjaga dan merayakan keindahan tari tradisi adalah ikhtiar luhur dalam merajut identitas kebangsaan yang kokoh demi kebanggaan peradaban Indonesia di mata dunia.
Penampilan kolosal ini menjadi semakin magis saat tata lampu panggung modern berpadu dengan asap dupa tradisional dan lantunan gending Using yang menghentak pelataran Candi Bentar. Para diplomat asing dari berbagai benua yang hadir mengaku terkesima dengan keselarasan gerak ratusan penari muda yang mampu menjaga tempo dan formasi kipas kolosal secara presisi tanpa cela sedikit pun.
Keberhasilan pementasan Gandrung Sewu di ibu kota menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain untuk mengangkat warisan seni pertunjukan tradisi ke panggung pentas berkelas nasional. Seni budaya tradisional terbukti mampu menjadi magnet hiburan yang memikat hati seluruh generasi sekaligus merajut persatuan dan kebanggaan akan jati diri kebudayaan bangsa Indonesia.
Kemeriahan pentas tari Gandrung Sewu di ibu kota mengingatkan kita semua akan kekayaan khazanah seni tradisi yang adiluhung dan sarat makna. Melalui panggung apresiasi yang megah, kebudayaan daerah akan senantiasa hidup dan menjadi sumber inspirasi kreatif yang membanggakan bangsa Indonesia di panggung dunia.