Harga minyak mentah acuan perdagangan internasional mencatatkan penguatan moderat pada sesi perdagangan bursa komoditas Asia, Rabu pagi. Kenaikan harga emas hitam ini ditopang oleh rilis data penurunan tak terduga cadangan bahan bakar komersial Amerika Serikat serta proyeksi peningkatan konsumsi minyak pemanas di belahan bumi utara menjelang datangnya musim dingin.
Mengutip laporan berkala pasar energi kantor berita Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent menguat 0,55 persen atau naik 41 sen ke level 75,25 dolar AS per barel di bursa komoditas ICE London. Pada saat bersamaan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan depan terapresiasi 0,60 persen ke posisi 71,10 dolar AS per barel di bursa komoditas New York Mercantile Exchange.
Laporan mingguan dari American Petroleum Institute (API) yang dipublikasikan pada Selasa malam waktu setempat menunjukkan bahwa stok minyak mentah komersial AS menyusut sebesar 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober. Angka penurunan persediaan ini melampaui estimasi sebagian besar analis pasar yang memproyeksikan penurunan terbatas sekitar 800 ribu barel.
Penurunan cadangan minyak di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, menunjukkan bahwa aktivitas kilang minyak di Amerika Serikat masih beroperasi pada tingkat utilitas tinggi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan bahan bakar pemanas distilat dan bahan bakar penerbangan (avtur).
Di sisi penawaran, perhatian pelaku pasar tertuju pada pertemuan berkala tingkat menteri aliansi negara-negara produsen minyak OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia. Para delegasi dikabarkan condong untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari hingga kuartal pertama tahun depan guna menyerap kelebihan suplai dari produsen non-OPEC.
Kendati berada dalam tren naik, para analis perbankan investasi mengingatkan bahwa potensi penguatan harga masih dibayangi oleh sinyal perlambatan aktivitas manufaktur di beberapa kawasan industri Eropa, sehingga pergerakan harga minyak diprediksi akan terkonsolidasi pada rentang 73 hingga 78 dolar AS per barel sepanjang pekan ini.
Dinamika pasar energi global juga dipengaruhi oleh proyeksi cuaca ekstrem musim dingin dari lembaga meteorologi internasional yang memprediksi suhu udara di kawasan Amerika Utara dan Eropa Utara akan berada di bawah rata-rata historis selama bulan Desember hingga Januari mendatang. Ekspektasi lonjakan konsumsi minyak pemanas rumahan dan gas alam cair (LNG) memicu aksi lindung nilai (hedging) yang agresif oleh perusahaan utilitas listrik dan pedagang komoditas energi.
Di sisi geopolitik, ketegangan di jalur pelayaran maritim strategis Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah masih menjadi faktor premi risiko tambahan bagi biaya angkut kapal tanker minyak mentah. Asuransi pelayaran kargo energi internasional tercatat mengalami kenaikan premi sekitar 15 persen, yang secara tidak langsung memberikan dorongan lantai dasar (floor price) bagi harga komoditas minyak berjangka di bursa komoditas internasional.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan pasar minyak memproyeksikan bahwa pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 akan ditopang oleh ekspansi industri petrokimia dan sektor penerbangan komersial internasional di kawasan Asia Pasifik yang telah pulih sepenuhnya melampaui level prapandemi.
Pelaku pasar komoditas kini menantikan rilis resmi data mingguan persediaan bahan bakar dari Badan Informasi Energi AS (EIA) pada sesi perdagangan malam nanti untuk mengonfirmasi arah konsumsi riil sebelum mengambil posisi spekulatif jangka menengah di bursa komoditas berjangka New York dan London.