Pergeseran paradigma layanan kesehatan nasional dari pendekatan kuratif (mengobati orang sakit) menuju preventif (menjaga orang tetap sehat) mulai membuahkan hasil nyata di tingkat akar rumput. Program skrining kesehatan terintegrasi siklus hidup kini telah menjangkau masyarakat desa yang sebelumnya kesulitan mengakses laboratorium medis.
Menurut rilis resmi Kementerian Kesehatan yang disiarkan LKBN ANTARA, lebih dari 4,2 juta warga di wilayah pedesaan dan pulau-pulau kecil telah menjalani pemeriksaan kesehatan komprehensif tanpa dipungut biaya. Paket skrining meliputi pemeriksaan kadar gula darah, profil lipid kolesterol, fungsi ginjal, tekanan darah, hingga deteksi dini kanker serviks dengan metode tes urine dan IVA digital.
Melalui pendataan digital pada platform SatuSehat, rekam medis hasil skrining warga langsung tercatat dan dapat dipantau oleh kader posyandu serta dokter puskesmas. Warga yang terindikasi memiliki kadar gula darah pra-diabetes atau hipertensi stadium awal langsung mendapatkan intervensi gizi terpandu dan pendampingan pola hidup sehat sebelum penyakit berkembang menjadi komplikasi kronis.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes menyatakan bahwa deteksi dini ini menghemat triliunan rupiah anggaran jaminan kesehatan nasional di masa mendatang. Dengan mengendalikan faktor risiko sejak dini, beban biaya cuci darah dan penanganan stroke yang mahal dapat ditekan secara signifikan.