Pencarian petunjuk kelayakan huni di planet-planet luar tata surya (eksoplanet) kembali mencatat kemajuan revolusioner. Instrumen spektrometer canggih milik Teleskop Antariksa James Webb berhasil membaca komposisi molekuler atmosfer sebuah planet berbatu seukuran bumi dengan tingkat presisi yang belum pernah tercapai dalam sejarah astronomi.
Mengutip rilis ilmiah konsorsium observatorium internasional via PR Newswire, planet yang mengorbit bintang kerdil merah di konstelasi Cygnus tersebut menunjukkan garis serapan spektral yang jelas untuk uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), serta jejak molekul sulfur organik. Analisis transmisi cahaya bintang saat planet melintas menunjukkan keberadaan lapisan awan tebal di atmosfer tengahnya.
Para astrofisikawan menjelaskan bahwa keberadaan karbon dioksida dan uap air dalam proporsi stabil mengindikasikan adanya siklus geokimia aktif, mirip dengan interaksi mantel bumi dan samudra primitif miliaran tahun lalu. Meskipun suhu permukaannya diperkirakan mencapai 45 derajat Celsius, keberadaan atmosfer tebal mampu melindungi permukaan dari radiasi flare bintang induk.
Penemuan ini menjadi batu loncatan krusial dalam memvalidasi model iklim planet luar surya. Tim peneliti kini menjadwalkan pengamatan transmisi lanjutan untuk mendeteksi apakah terdapat biosignature sekunder seperti ozon atau gas klorofil dalam siklus musiman atmosfer eksoplanet tersebut.