LOMBOK TENGAH — Penyelenggaraan ajang balap internasional Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika membawa berkah ekonomi luar biasa bagi industri pariwisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB mencatat tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel berbintang, resor pantai, hingga homestay milik warga di kawasan The Mandalika dan sekitarnya menembus angka rata-rata 95 persen sepanjang akhir pekan ini.
Lonjakan kedatangan wisatawan nusantara dan mancanegara yang diperkirakan melampaui 100.000 orang selama tiga hari rangkaian balapan tidak hanya memadati area sirkuit balap, melainkan juga menyebar ke berbagai destinasi wisata bahari unggulan di Lombok Selatan. Pantai Kuta Mandalika, Pantai Tanjung Aan, Bukit Merese, hingga Pantai Selong Belanak dipadati turis yang menikmati pesona pasir putih merica dan ombak selancar kelas dunia sebelum menghadiri sesi balapan sore hari. Pemandangan matahari terbenam di atas perbukitan hijau Mandalika menjadi daya tarik visual yang ramai diunggah penonton ke jejaring sosial global.
Perputaran ekonomi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut merasakan dampak pengganda (multiplier effect) yang masif. Sentra kuliner khas Lombok yang menjajakan Ayam Taliwang, Plecing Kangkung, dan Sate Bulayak di sepanjang pesisir Kuta diserbu pembeli hingga larut malam. Ratusan gerai UMKM binaan pemerintah daerah dan BUMN di area bazaar sirkuit membukukan kenaikan omzet penjualan hingga lima kali lipat dibandingkan hari biasa, terutama untuk cinderamata kain tenun songket Sasak dan kerajinan mutiara air laut asli Lombok.
Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTB menyatakan paket wisata gabungan (bundling) tiket balap dengan tur kapal pesiar ke kawasan Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air terjual habis sejak sebulan sebelum acara. Para pengusaha jasa penyewaan kendaraan roda empat dan sepeda motor di Kota Mataram dan Bandara Internasional Lombok kehabisan stok armada menyusul tingginya permintaan mobilisasi penonton antardestinasi wisata. Sektor penerbangan komersial juga menambah puluhan jadwal penerbangan ekstra (extra flights) langsung dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan Singapura untuk melayani arus kedatangan penonton.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB mengapresiasi manajemen penyelenggaraan event yang kian profesional dan tertata rapi. Pengalaman berlibur yang aman, nyaman, dan berkesan bagi para penonton mancanegara dinilai sebagai media promosi pariwisata paling efektif untuk menempatkan Lombok sejajar dengan destinasi wisata terkemuka dunia seperti Bali dan Phuket.
Dengan target perputaran pergerakan ekonomi yang diestimasi mencapai triliunan rupiah dari sektor pariwisata, akomodasi, transportasi, dan konsumsi kuliner, gelaran Mandalika kembali membuktikan peran strategis sport tourism sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah dan pencipta lapangan kerja berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
Untuk menjamin keberlanjutan daya dukung lingkungan di tengah lonjakan arus kunjungan, ITDC bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) dengan memperketat pengelolaan sampah plastik dan daur ulang air limbah di seluruh kawasan resor. Kendaraan bus listrik ramah lingkungan dioperasikan sebagai moda transportasi utama penonton di koridor sirkuit guna meminimalkan emisi gas buang dan menjaga keasrian udara pesisir pantai.
Pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal di sekitar lingkar Mandalika, seperti Desa Sade dan Desa Ende yang terkenal dengan arsitektur rumah adat suku Sasak, terus dipromosikan sebagai magnet wisata edukasi budaya. Wisatawan mancanegara diajak menyaksikan proses tradisional menenun kain songket, pertunjukan seni tari tarian tradisional, serta mencicipi kuliner warisan leluhur yang memperkaya pengalaman berwisata di bumi Seribu Masjid.