Pasar valuta asing domestik menutup perdagangan Senin sore dengan ketahanan yang meyakinkan. Kurs rupiah terapresiasi tipis 15 poin ke level Rp15.610 per dolar Amerika Serikat di pasar spot antarbank, mencerminkan likuiditas valas yang memadai serta persepsi risiko investasi yang membaik di pasar negara berkembang.

Melansir rilis data pemantauan pasar uang Bank Indonesia (BI), penguatan mata uang garuda ditopang oleh keberlanjutan aliran modal masuk (capital inflows) pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Imbal hasil riil yang ditawarkan instrumen moneter domestik dinilai tetap kompetitif di tengah sikap penantian pasar terhadap arah suku bunga global.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia menegaskan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang sangat memadai untuk membiayai lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Hal ini memberikan bantalan pelindung yang tangguh dari potensi guncangan eksternal dan gejolak geopolitik dunia.

Bank Indonesia memastikan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter yang berorientasi pada stabilitas (pro-stability), sekaligus mengoptimalkan pendalaman pasar keuangan melalui instrumen term deposit valas guna menjaga keberlanjutan pasokan devisa hasil ekspor di perbankan nasional.