Memasuki periode peralihan menuju puncak musim penghujan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) preventif. Langkah antisipatif ini dipusatkan di sepanjang koridor pesisir utara Jawa, sebagian wilayah Sumatera bagian selatan, dan Sulawesi.
Sebagaimana disampaikan Deputi Bidang Meteorologi BMKG dalam konferensi pers di Jakarta, operasi ini bertujuan menyemai bibit awan hujan konvektif di atas lautan lepas sebelum gugusan awan tersebut bergerak memasuki daratan padat penduduk. Dengan demikian, curah hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir bandang dan tanah longsor dapat diturunkan intensitasnya secara terukur.
Pesawat angkut TNI Angkatan Udara yang dilengkapi instrumen penyemai bahan higroskopis telah disiagakan di pangkalan udara strategis. Operasi pemantauan radar cuaca beresolusi tinggi diaktifkan selama 24 jam nonstop untuk mendeteksi pergerakan massa udara basah akibat fenomena gelombang atmosfer ekuatorial seperti Madden-Julian Oscillation (MJO).
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di kawasan bantaran sungai serta lereng perbukitan untuk secara aktif membersihkan saluran drainase, memeriksa ketahanan tanggul, dan memantau pembaruan peringatan dini cuaca ekstrem melalui aplikasi resmi Info BMKG.