Dekarbonisasi sektor transportasi darat kini tidak lagi terbatas pada mobil penumpang listrik berukuran kecil. Armada kendaraan komersial berat (heavy-duty trucks) yang menjadi tulang punggung rantai pasok barang antarkota mulai membuktikan keandalan sistem penggerak sel bahan bakar hidrogen (fuel cell electric vehicle).
Melansir laporan komparatif dari Deutsche Welle (DW) Indonesia, hasil evaluasi uji jalan armada logistik sejauh 50.000 kilometer menunjukkan performa impresif. Truk bertenaga hidrogen mampu mengangkut muatan kontainer 40 ton melintasi kontur jalan berbukit tanpa mengalami degradasi tenaga, dengan waktu pengisian tangki hidrogen cair hanya berkisar antara 10 hingga 15 menit.
Keunggulan terbesar truk hidrogen dibandingkan truk listrik baterai murni terletak pada bobot kosongnya. Tanpa beban berat ribuan kilogram baterai lithium, kapasitas muatan bersih barang niaga dapat dimaksimalkan, sementara emisi yang keluar dari corong knalpot hanyalah uap air murni.
Di Indonesia, konsorsium industri energi dan manufaktur otomotif mulai melirik proyek percontohan koridor logistik hidrogen di sepanjang jalur Trans-Jawa. Ketersediaan hidrogen hijau sebagai produk sampingan industri petrokimia domestik dinilai dapat mempercepat tercapainya target bebas emisi sektor logistik nasional pada 2040.